Krisis Solar Subsidi Hantam Petani Kotim, Alsintan Terancam Lumpuh

GERBANGDESA.COM, Sampit – Krisis solar subsidi mulai menghantam aktivitas pertanian di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Para petani mengeluhkan semakin sulitnya memperoleh bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Kondisi tersebut bahkan memunculkan kekhawatiran terganggunya produktivitas pertanian hingga ancaman terhadap target ketahanan pangan.

Persoalan itu menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kotim bersama petani, Dinas Pertanian, pengelola SPBU, dan pihak Pertamina, Selasa (26/5/2026).

Sejumlah petani mengaku dalam beberapa waktu terakhir akses terhadap solar subsidi semakin terbatas, sementara harga di lapangan terus melonjak.

M. Rifai, petani asal Kecamatan Teluk Sampit mengungkapkan selama ini sebagian petani terpaksa membeli solar melalui pelangsir demi menjaga operasional alsintan tetap berjalan.

Namun belakangan harga semakin tinggi dan pasokan semakin sulit didapat.

“Yang kami perlukan hanya solar untuk bekerja. Dulu kami masih bisa mendapatkan pasokan, sekarang harganya semakin melambung dan jumlahnya semakin sedikit,” tegasnya.

Ironisnya, petani justru berada dalam posisi sulit saat hendak memperoleh bahan bakar menggunakan jeriken untuk kebutuhan alat pertanian.

Mereka mengaku kerap dicurigai melakukan penimbunan. Padahal solar yang seharusnya dijual dengan harga sekitar Rp6 ribuan per liter, di lapangan bisa mencapai Rp25 ribu per liter ketika diperoleh melalui jalur pelangsir.

Ketua Komisi II DPRD Kotim, Akhyannoor menegaskan persoalan tersebut harus segera diselesaikan melalui perbaikan sistem distribusi dan regulasi penyaluran BBM bagi petani.

“Jangan sampai petani yang menjadi tulang punggung produksi pangan justru dipersulit mendapatkan kebutuhan dasarnya. Pertemuan ini harus melahirkan solusi, bukan sekadar pembahasan,” katanya.

Senada dengan itu, Anggota Komisi II DPRD Kotim Hendra Sia menilai persoalan BBM dapat berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian daerah.

“Petani adalah ujung tombak ketahanan pangan. Bagaimana target panen bisa tercapai kalau alat pertanian terancam berhenti hanya karena sulit mendapatkan solar,” ujarnya.

Ia mendorong adanya penambahan kuota khusus BBM untuk petani serta pembangunan SPBU khusus pertanian di wilayah selatan Kotim sebagai solusi jangka panjang. (nfr/fin)

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post