GERBANGDESA.COM, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Eka Bahurui, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum berhasil dikendalikan hingga memasuki hari kelima. Luas area yang terbakar diperkirakan terus bertambah dari sekitar 5 hektare menjadi 7–8 hektare.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kotim mengajukan permintaan bantuan helikopter ‘water bombing’ kepada Posko Penanggulangan Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah guna mempercepat pengendalian api.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan tim gabungan telah bekerja tanpa henti selama empat hari terakhir melakukan pemadaman dari darat.
Namun, karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar serta rapatnya vegetasi hutan membuat kobaran api sulit dipadamkan.
“Hari ini merupakan hari kelima kejadian. Tim masih berada di lapangan untuk melakukan kaji cepat sekaligus memantau perkembangan kebakaran,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Menurut Multazam, hasil pemantauan lapangan telah dikirim ke Posko Karhutla Provinsi sebagai dasar permohonan dukungan pemadaman melalui udara.
“Data sudah kami kirim ke Palangka Raya. Kami berharap bantuan ‘water bombing’ segera diterjunkan karena kebakaran terus menunjukkan potensi meluas. Saat ini kami masih menunggu hasil patroli Satgas Udara BNPB,” tegasnya.
Proses pemadaman juga dihadapkan pada kendala minimnya sumber air. Petugas harus mengambil pasokan air dari lokasi yang berjarak sekitar 750 meter dari titik api.
Selain itu, akses menuju lokasi sangat sulit karena kawasan masih berupa hutan lebat di atas lahan gambut, sehingga tim terpaksa membuka jalur baru agar peralatan pemadam dapat menjangkau area kebakaran.
“Obstacle di lapangan cukup berat. Selain gambut, hutannya masih lebat sehingga kami harus membuat akses baru untuk mencapai titik api,” jelas Multazam.
BPBD Kotim berharap dukungan pemadaman melalui udara segera terealisasi agar penyebaran api dapat ditekan sebelum meluas ke kawasan yang lebih besar.
“Perkiraan awal luas kebakaran sekitar 5 hektare, namun dari pemantauan terbaru kemungkinan sudah mencapai 7 hingga 8 hektare. Semakin cepat bantuan udara datang, semakin besar peluang api bisa dikendalikan,” pungkasnya. (hmn/fin)















