Jembatan Gantung Sungai Sampit, Nasibmu Kini?

Gerbang Desa– Jembatan gantung sungai Sampit merupakan jembatan penghubung antara Desa Bagendang Hulu dengan Desa Bagendang Permai di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Jembatan itu dibangun diperkirakan sekitar tahun 80an.

Pada zaman itu, belum ada akses jalur darat dan hanya mengandalkan transportasi air dari ibu kota Sampit menuju kecamatan tersebut. Sedangkan jembatan gantung itu dibangun ketika masih operasionalnya perusahaan kayu pengolahan molding (kayu bulat) hingga sekarang jembatan masih berfungsi dengan baik.

Kemudian sekitar tahun 90an ke atas. jembatan sungai Lenggana dan jembatan sungai Sampit, itupun dibangun pemerintah daerah setempat.

Fungsinya, menghubungkan jalur darat antara Kota Sampit ke Kecamatan Mentaya Hilir Utara, bahkan kecamatan lainnya di wilayah selatan hingga tembus ke Seruyan yang merupakan kabupaten pemekaran Kotawaringin Timur.

Sejak adanya akses jalur darat itulah, jembatan gantung sungai Sampit yang dulunya jadi primadona mulai terlupakan. Namun, bagi penduduk yang bermukim disekitar jembatan tetap mengandalkan jembatan gantung itu sebagai salah satu jalan alternatif.

Lalu apa kelebihan dan kekurangan adanya jembatan gantung sungai Sampit ini?

Kelebihannya,

1. Melihat langsung sunrise (matahari pagi) naik perlahan dan sunset (matahari terbenam) cahayanya indah terlihat disela-sela batang pohon dan dedaunan

2. Lalu lintas perahu bermotor dari sungai Mentaya menuju Desa Bagendang Tengah hingga ke Desa Natai Baru

3. Nelayan tangkap ikan sungai menggunakan jaring ikan

4. Suasana alam yang masih perawan

5. Melihat rumah-rumah penduduk berjejer rapi di bantaran sungai Sampit

Kekurangannya,

1. Belum adanya tempat untuk parkir kendaraan roda 2 dan 4 khusus pengunjung

2. Kurang terawat sehingga jembatan berkarat

3. Daun dan ranting pohon tidak dipangkas

4. Belum tersedia jajanan atau kuliner khas desa yang dijual disekitar jembatan.

5. Kurang promosi meskipun sudah di zaman digitalisasi

Sementara itu, diperkirakan mulai tahun 2016-2017, Pemerintah Kecamatan Mentaya Hilir Utara telah berupaya untuk menghidupkan kembali, supaya jembatan gantung sungai Sampit tetap menjadi salah satu alternatif kunjungan wisata.

Salah satu strategi yang dijalankan yakni, menggelar Haulan Raja Bungsu. Namun, ritual islami itu tidak berlanjut dikarenakan belum dimasukan sebagai agenda tahunan kecamatan setempat.

Kemudian tahun 2021, warga sekitar jembatan gantung sungai Sampit terutama yang tinggal di Desa Bagendang Permai itu juga terlihat berupaya menghidupkan kembali desa wisata itu.

Warga desa membuat tempat bersantai ria di dermaga dekat jembatan yang ada di hilir. Di atas dermaga itulah dipasang kayu berbentuk ‘Love’ dan disediakan beberapa tempat duduk.

Yang jadi kendala saat ini, dermaga milik Dinas Perhubungan (Dishub) Kotawaringin Timur yang dibangun di Desa Bagendang Hulu terletak di hulu dekat jembatan gantung, kondisinya ada sebagian sudah ambruk dan belum ada informasi perbaikan hingga sekarang.

Padahal, di dermaga dishub itulah posisi yang tepat dan dianggap bagus untuk pengunjung ketika ingin berswafoto maupun berselfi ria dengan latar jembatan gantung.

Disekitar jembatan gantung sungai Sampit, Pemerintah Desa Bagendang Hulu telah membuka pasar desa yang dibangun permanen yang diberinama pasar “Raja Bungsu”.

Pasar desa dibuka setiap Selasa pagi dan selalu ramai dikunjungi karena tidak hanya dipenuhi para pedagang dan pembeli dari warga desa setempat bahkan di luar desa.

Kini, kita menunggu gebrakan baru dari Pemerintah Kecamatan Mentaya Hilir Utara bersama Pemerintah Desa Bagendang Hulu dan Pemerintah Desa Bagendang Permai pasca Covid-19.

Bagaimana upaya pemerintahan itu, agar desa wisata jembatan gantung sungai Sampit yang dulunya jadi primadona tetap menjadi salah satu alternatif kunjungan wisata kedepannya. (gd-min)

Tags

Share this post:

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Tinggalkan Balasan

Related Post