GERBANGDESA.COM, Sampit – Fenomena terrarium kini mulai menarik perhatian masyarakat di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Aktivitas merangkai ekosistem mini dalam wadah kaca ini tidak hanya menjadi sarana melepas penat, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis tanaman lokal yang berpotensi menembus pasar internasional.
Terrarium merupakan seni menata tanaman, mikroorganisme, dan mineral dalam wadah transparan yang menyerupai ekosistem alami seperti hutan hujan atau padang rumput. Di tengah rutinitas dan tekanan pekerjaan, hobi ini menjadi alternatif relaksasi yang sederhana namun bermakna, sekaligus menghadirkan sentuhan alam ke dalam ruang terbatas.
Salah satu peserta workshop, Ade Risma, mengaku awalnya tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena ajakan teman dan ketertarikan pada tanaman hijau. Pengalaman tersebut memberinya perspektif baru terhadap lingkungan sekitar. “Kegiatan ini menyenangkan dan memberi ilmu baru. Ternyata tanaman yang biasa kita lihat memiliki nilai estetika dan ekonomi yang tinggi,” ujarnya.
Dalam workshop, peserta dibekali pengetahuan teknis mulai dari penyusunan lapisan batu sebagai drainase, penggunaan arang dan kain penyaring, hingga penataan media tanam untuk menciptakan lanskap mini yang estetis. Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini juga memberikan efek menenangkan secara emosional bagi para pesertanya.
Penyelenggara workshop, Borneo Aquatic, melalui perwakilannya Mutia Yuliza, menjelaskan bahwa terrarium menjadi solusi praktis bagi masyarakat modern untuk menghadirkan nuansa alam tanpa perawatan rumit. Ia juga menyoroti manfaat psikologisnya dalam membantu meredakan stres, sejalan dengan pentingnya paparan oksigen dan kedekatan dengan alam bagi kesehatan mental.
Lebih dari sekadar hobi, terrarium dinilai memiliki potensi bisnis yang menjanjikan. Tanaman seperti lumut, pakis, hingga jenis endemik Kalimantan seperti Bucephalandra memiliki nilai jual tinggi di pasar global. Borneo Aquatic sendiri telah mengekspor produknya ke berbagai negara di Asia Tenggara, Afrika, Amerika Serikat, dan Eropa. Meski demikian, minat masyarakat lokal masih relatif rendah. Melalui workshop ini, diharapkan warga mulai melihat terrarium sebagai peluang usaha sekaligus langkah mengenalkan potensi kekayaan hayati daerah ke pasar dunia.(*/d)
Sumber: Antaranews















