GERBANGDESA.COM SAMPIT – Ritual Tiwah di Desa Merah, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali digelar dengan penuh khidmat. Bagi umat Hindu Kaharingan, Tiwah adalah kewajiban suci.
Namun, di balik kekuatan spiritual dan nilai budaya yang dikandungnya, terselip pertanyaan besar: sejauh mana pemerintah benar-benar serius menjadikan Tiwah sebagai etalase wisata budaya Kotim?
Kepala Disbudpar Kotim, Bima Eka Wardhana, dengan lantang menyebut Tiwah sebagai warisan budaya Dayak yang harus dilestarikan.
“Tiwah ini sangat positif. Dari sisi budaya dan pariwisata, ini adalah daya tarik. Kita harapkan bisa menjadi magnet wisata,” ucapnya, baru-baru ini.
Tapi di lapangan, janji itu masih sebatas retorika. Tidak ada kalender wisata resmi yang menempatkan Tiwah sebagai agenda tahunan. Tidak ada infrastruktur pendukung bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung.
Bahkan, promosi yang dilakukan masih sebatas unggahan sporadis di media sosial dan sosialisasi kecil-kecilan di forum pertemuan.
Fakta lain yang menguatkan kesan setengah hati adalah minimnya alokasi anggaran pariwisata berbasis budaya. Sumber internal di lingkungan Disbudpar menyebut, dana untuk pengembangan pariwisata budaya masih kalah jauh dibandingkan program seremonial lain yang lebih bersifat serapan anggaran ketimbang berdampak nyata.
“Kalau memang serius, harusnya ada dukungan fasilitas, paket wisata budaya, dan promosi terjadwal. Jangan hanya lip service setiap ada acara adat,” sindir seorang tokoh masyarakat Dayak di Tualan Hulu.
Padahal, Tiwah bukan sekadar tradisi lokal. Ia adalah mahakarya budaya Dayak yang diakui sebagai ritual besar penyucian arwah leluhur. Di banyak daerah, event adat sebesar ini justru menjadi destinasi wisata budaya kelas dunia. Di Bali, misalnya, ritual keagamaan mampu mendatangkan ribuan wisatawan mancanegara setiap tahun.
Jika Kotim tidak bergerak cepat, potensi ini akan lenyap, tergilas arus modernisasi. Ritual Tiwah bisa saja tetap berlangsung, tetapi hanya sebagai upacara keluarga tertutup tanpa gaung, kehilangan peluang untuk mengangkat marwah budaya Dayak di mata dunia.
Ritual Tiwah kali ini seolah menjadi cermin antara klaim pemerintah yang menyebut budaya sebagai daya tarik wisata, dan realita di lapangan yang masih minim dukungan.
Disbudpar Kotim ditantang untuk membuktikan bahwa mereka tidak sekadar mengumbar pernyataan, tetapi benar-benar hadir dengan program nyata, terukur, dan berkelanjutan.
“Budaya jangan hanya jadi bahan promosi, tapi benar-benar dijaga. Kalau pemerintah tidak serius, kita khawatir anak cucu nanti hanya mengenal Tiwah lewat cerita, bukan lagi sebagai kebanggaan,” tegas tokoh adat setempat. (fin/fin)














