GERBANGDESA.COM SAMPIT – Usai sudah ritual tiwah yang diadakan delapan kelompok keluarga besar Desa Merah, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, 9-20 Juli 2025. Acara keagamaan khususnya penganut Hindu Kaharingan itu dipusatkan di Desa Merah.
Ritual tiwah itu dihadiri keluarga besar yang tersebar dari beberapa desa wilayah Kecamatan Tualan Hulu seperti di Desa Tumbang Mujam, Desa Luwuk Sampun, Desa Sungai Hanya, Desa Gunung Makmur, termasuk keluarga yang ada di Kabupaten Katingan.
Kepala Desa Merah Harnes mengatakan, Kecamatan Tualan Hulu penduduknya mayoritas beragama Hindu Kaharingan sehingga ritual tiwah hampir diadakan tiap tahun bahkan sudah menjadi agenda.
“Ritual tiwah bisa dijadikan wisata religi dan bisa dikembangkan, dilestarikan, dan didukung pemerintah kabupaten kotawaringin timur pada khususnya dan pemerintah provinsi kalimantan tengah pada umumnya,” ucapnya kepada wartawan media siber gerbang desa usai acara penombakan hewan kurban, 17 Juli 2025.
Mengingat ritual tiwah ini dijadikan agenda, lanjut Harnes, pihaknya berharap baik pemkab maupun Perusahaan Besar Swasta (PBS) atau perkebunan kelapa sawit yang beroperasional di wilayah Kecamatan Tualan Hulu, untuk memperhatikan kondisi terutama infrastruktur jalan menuju desa-desa.
“Kami atas nama keluarga besar yang menyelenggarakan ritual tiwah ini mengucapkan terima kasih kepada PBS yang turut membantu mulai dari persiapan, perbaikan jalan, sampai terlaksanaan ritual tersebut,” ujar Kades Harnes.
“Selain itu, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Kotim yang dalam hal ini diwakilkan Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Bima Ekawardhana dan Camat Tualan Hulu Admadi Sastra, atas turut hadir pada acara puncak ritual tiwah yakni, penombakan hewan kurban,” sambungnya.

Sementara itu, mewakili Bupati Kotim, Plt Kepala Disbudpar Bima Ekawardhana menyambut baik diselenggarakan ritual tiwah yang dipusatkan di Desa Merah, Kecamatan Tualan Hulu.
Menurutnya, ini salah satu kebudayaan masyarakat dayak ngaju terutama yang beragama Hindu Kaharingan sehingga harus tetap dilestarikan.
“Kalau kita lihat dari dari sisi lain ini adalah kebudayaan dan merupakan salah satu warisan budaya yang dilestarikan, ritual tiwah bisa menjadi daya tarik wisata,” ucapnya.
Disbudpar Kotim, lanjutnya, akan mempromosikan warisan budaya ini agar lebih dikenal tidak hanya masyarakat yang ada di Kalimantan, indonesia bahkan ke Mancanegeara.
“Kami akan promosikan kegiatan seperti ini melalui website resmi milik Disbudpar bahkan media sosial, supaya masyarakat secara luas bahwa kalimantan terutama di Kotim ini masih melestarikan budaya ritual tiwah seperti ini,” kata mantan Kepala Dinas Pendidikan Kotim ini.

Camat Tualan Hulu Admadi Sastra menambahkan, ritual tiwah ini merupakan suatu tradisi masyarakat dayak terutama penganut Hindu Kaharingan dan dilakukan dalam beberapa tahun.
“Ada 10 item yang dilaksanakan dalam ritual tiwah dan ini hari ketujuh yakni penombakan hewan kurban,” ujar Admadi.
Dia juga menjelaskan, sepuluh item dalam ritual tiwah tersebut merupakan bentuk leluhur bagaimana arwah ini naik ke surga.
“Penombakan hewan kurban melaksanakan tiwah ini ada delapan kelompok, sandung ada 5 buah, kemudian pantar pali ada lima buah yang berada ditempat berbeda. Setelah ritual tiwah ini akan dilanjutkan mendirikan pantar pali,” pungkasnya. (fin/fin)














