SAMPIT – Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Andi Lala, menyatakan dukungan penuh atas rencana investor asal Morowali, Sulawesi Tengah, yang bakal menggelontorkan investasi jumbo senilai Rp160 triliun untuk membangun smelter bauksit, silika, dan batubara di Kecamatan Pulau Hanaut.
Sebagai wakil rakyat dari Dapil V dan juga anggota Komisi II, Andi Lala mengakui langkah tersebut memang tidak berada langsung di wilayahnya, namun ia menegaskan justru keputusan itu strategis.
“Selama ini wilayah selatan, termasuk Pulau Hanaut dan sekitarnya di Dapil III, sering terpinggirkan. Kalau smelter berdiri di sana, pertumbuhan ekonomi akan meledak dan taraf hidup masyarakat ikut terangkat,” ucapnya saat ditemui di ruangan Komisi II DPRD Kotim, Rabu {17/9/2025}.
Ia mengingatkan, Dapil V yang terdiri dari Parenggean, Tualan Hulu, Telaga Antang, Antang Kalang, dan Bukit Santuai sejatinya dikenal sebagai lumbung tambang dengan cadangan bauksit dan batubara melimpah. Ironisnya, kata dia, pusat pengolahan justru dipilih di Pulau Hanaut.
Meski begitu, Andi Lala tidak mempermasalahkan. Menurutnya, keputusan itu jauh lebih realistis karena Pulau Hanaut punya keunggulan akses laut.
“Kita belajar dari 2014 lalu. Waktu itu ada investor yang mau bangun smelter bauksit di Kecamatan Cempaga, tapi kandas di tengah jalan. Alasan utamanya karena lokasi jauh dari laut, sehingga biaya logistik membengkak,” ungkapnya.
Politisi Gerindra yang dikenal vokal itu menilai rencana terbaru ini jauh lebih matang. Ia menyebut Pulau Hanaut berpotensi menjelma menjadi pusat industri terbesar di Kalimantan Tengah.
“Bukan hanya Kotim yang akan menikmati, tapi se-Kalteng akan kecipratan dampaknya. Ini game changer untuk perekonomian daerah,” tandasnya. {fin/fin}















