Porsenijar 2025: Saat Guru Menari, Budaya Daerah Bersemi

Ajang PGRI Kotim ini bukan sekadar lomba, tetapi panggung para pendidik menyalakan kembali semangat pelestarian seni dan kearifan lokal melalui tari.

SAMPIT – Gemulai langkah para guru menari di atas panggung sederhana di halaman SDN 6 Mentawa Baru Hulu, Rabu (8/10/2025), menjadi simbol hidupnya kembali semangat budaya daerah. Dalam helatan Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Kotawaringin Timur 2025, bukan sekadar gerak tubuh yang ditampilkan, tetapi juga jiwa-jiwa para pendidik yang ingin menjaga warisan leluhur lewat tarian yang sarat makna.

Ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Kabupaten Kotawaringin Timur tahun 2025 menjadi panggung bagi para guru untuk menyalakan kembali semangat budaya daerah. Kegiatan yang berlangsung pada 8–10 Oktober ini diikuti 11 peserta dari sembilan pengurus cabang PGRI kecamatan se-Kotim.

Salah satu mata lomba yang paling menyita perhatian publik ialah lomba tari tunggal, baik putra maupun putri. Gelaran ini dipusatkan di halaman SDN 6 Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, dengan kemasan yang memadukan keindahan gerak dan nilai-nilai kearifan lokal.

Ketua panitia, Hasanuddin, menyampaikan bahwa penilaian lomba mengacu pada beberapa aspek, di antaranya ide atau gagasan, teknik, penampilan, kreativitas, serta kemampuan koreografi peserta dalam mengolah ruang dan gerak.

“Tarian yang ditampilkan rata-rata mengangkat kisah kehidupan pedesaan dan keunggulan lokal di Kotim. Semua dikolaborasikan dengan gerakan yang energik dan memukau penonton,” ujarnya disela-sela kegiatan.

Peserta juga tampak tampil total dengan mengenakan pakaian adat Dayak serta menggunakan berbagai properti penunjang yang memperkaya makna visual pertunjukan.

Dewan juri yang dilibatkan pun berasal dari kalangan guru bidang kesenian, sehingga penilaian tidak hanya mempertimbangkan keindahan gerak, tetapi juga nilai edukatif yang terkandung di dalamnya.

Sebelumnya, Ketua PGRI Kotim, Mahbub, dalam arahannya menegaskan bahwa kegiatan ini harus dijalankan dengan penuh semangat, meski di tengah keterbatasan.

“Porsenijar bukan sekadar ajang lomba, tetapi wadah pembelajaran dan pelestarian budaya. Melalui kegiatan ini, kita ingin membangkitkan kembali kecintaan terhadap seni dan tradisi daerah,” ujarnya.

Melalui kompetisi tari ini, PGRI Kotim berharap tumbuhnya kembali gairah para guru dalam mengembangkan seni budaya di lingkungan sekolah.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat karakter, kreativitas, serta rasa bangga terhadap identitas lokal di tengah arus modernisasi.

Harapannya, tambah Mahbub, Porsenijar 2025 tidak hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga melahirkan inspirasi bahwa dari tangan para pendidik, nilai budaya dan kearifan lokal bisa terus hidup dan diwariskan pada generasi berikutnya. (fin/fin)

Related Post