Penilaian Lomba Desa Termeriah di Pulau Hanaut Dinilai Tidak Objektif

GERBANGDESA.COM SAMPIT – Penilaian lomba desa termeriah dalam rangka menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, memantik kritik tajam. Pasalnya, proses penilaian dianggap tidak objektif dan cenderung hanya melihat satu sisi saja.

Sejumlah kepala desa menilai, tim penilai seharusnya meninjau seluruh kondisi lingkungan tiap RT, bukan sekadar menyusuri satu jalur utama desa.

“Kalau hanya lihat jalan induk, jelas hasilnya timpang. Padahal, semarak kemerdekaan bukan hanya soal hiasan di satu titik, tetapi partisipasi warganya secara menyeluruh,” celetuk seorang kepala desa yang enggan disebutkan namanya.

Desa Bamadu akhirnya didapuk sebagai juara pertama. Alasannya, sepanjang jalan induk sepanjang kurang lebih 450 meter dipenuhi umbul-umbul, atribut, serta lampu hias yang menyala di malam hari.

Namun penilaian ini dianggap tidak adil jika dibandingkan dengan Desa Rawa Sari. Desa yang meraih piagam penghargaan kedua ini memiliki 12 RT, dan hampir seluruhnya berpartisipasi menghias lingkungan dengan beragam warna serta gerbang yang megah.

Ironisnya, Desa Babaung yang dekorasi lingkungannya hampir seimbang dengan Rawa Sari hanya menempati posisi ketiga. Hal ini menambah sorotan bahwa penilaian tidak benar-benar menyeluruh.

Camat Pulau Hanaut Dedy Purwanto saat dikonfirmasi tetap membela keputusan juri. Ia menilai Desa Bamadu pantas menjadi juara karena lampu hias yang terpasang menyala layaknya “terowongan Nur Mentaya” di Kota Sampit.

“Kalau malam, Bamadu terang benderang. Sedangkan Rawa Sari justru gelap gulita, jadi wajar jika nilainya lebih rendah,” tegasnya.

Pernyataan ini justru menambah kontroversi. Banyak pihak menilai, semangat kemerdekaan tidak bisa semata diukur dari kerlap-kerlip lampu di jalan utama.

Rawa Sari dengan keterlibatan warganya dari 12 RT seharusnya lebih dihargai, sementara Babaung pun layak dipertimbangkan lebih tinggi.

Lomba desa termeriah yang semestinya menjadi ajang kebersamaan warga kini meninggalkan tanda tanya, apakah penilaian benar-benar dilakukan dengan adil, atau sekadar mempertontonkan selera sepihak?. (fin/fin)

Share this post:

Related Post