![]() |
Pupuk subsidi menjadi barang mahal bagi para petani. Sebab, sampai sekarang belum ada solusi supaya pendistribusian pupuk subsidi tepat sasaran.
Gerbang Desa – Belum memasuki masa tanam yang akan dilaksanakan antara September dan Oktober, para petani sudah mengeluhkan harga pupuk bersubsidi hingga sekarang masih tinggi. Kalaupun tersedia, harganya naik hampir 50 persen.
“Bagaimana kami mau menanam padi, sedangkan pupuk subsidi dari pemerintah yang dijual ke petani harganya masih selangit,” kata Sarli, petani padi di wilayah Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, pekan tadi.
Sarli menjelaskan bahwa sebenarnya harga pupuk subsidi itu hanya Rp 90 ribu per sak. Setelah dijual ke petani harganya naik menjadi Rp 120 ribu per sak. Sedangkan harga non subsidi antara Rp 120 ribu hingga Rp 140 ribu per sak.
“Yang kami keluhkan lagi, selain harga pupuk subsidi hampir setara non subsidi, jatah pupuk ke petani juga dibatasi. Jadi, mau tidak mau kami terpaksa beli pupuk non subsidi untuk menutupi kekurangan jatah pupuk walaupun harganya jauh lebih mahal,” keluhnya.
Biasanya menjelang masa tanam yang disebut Oktober-Maret (Okmar), lanjut Sarli, para petani sudah sibuk mencari pupuk terutama yang bersubsidi untuk disimpan, karena petani harus membajak sawah tanpa pikir ketersediaan pupuk.
Akan tetapi, tambahnya, hingga menjelang masa tanam padi pupuk subsidi yang diharapkan para petani masih belum juga dibagikan.
“Kami berharap Pemkab Kotim memberikan solusi bagaimana harga pupuk subsidi itu benar-benar bisa dirasakan para petani, bukan sebaliknya,” harapnya mewakili petani padi lainnya yang ada di Bumi Habaring Hurung tercinta ini. (gd-min)















