MAMUJU – Di tangan generasi milenial, warisan budaya tidak hanya sekadar dijaga, tetapi juga dilesatkan hingga melampaui batas negara. Hal inilah yang dibuktikan oleh Novrianti, seorang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Mamuju, yang sukses membawa produk Tenun Mamasa merambah pasar internasional.
Melalui jenama “Tenun Mamasa by Novri”, ia berhasil membuktikan bahwa kain tradisional dari pelosok Sulawesi Barat memiliki daya tarik global yang kuat.
Keberhasilan ini menjadi sorotan karena usaha yang dirintisnya terbilang masih seumur jagung, yakni baru dimulai pada tahun 2024, namun telah mencatatkan pencapaian distribusi yang mengesankan.
Kunci utama dari akselerasi bisnis Novrianti terletak pada kepiawaiannya memanfaatkan teknologi digital, khususnya media sosial TikTok.
Berbeda dengan model pemasaran konvensional, Novri mengandalkan strategi promosi organik dengan konten-konten kreatif yang memikat.
Ia tidak sekadar berjualan, melainkan bercerita melalui visual; mulai dari menampilkan detail motif tenun yang rumit, proses pembuatan yang penuh ketelatenan, hingga memberikan inspirasi gaya busana (styling) modern menggunakan kain tradisional.
Pendekatan visual ini terbukti ampuh menjaring atensi audiens yang luas tanpa harus bergantung pada iklan berbayar yang mahal.
Dampak dari strategi digital tersebut sangat signifikan terhadap jangkauan pasar. Novrianti mengungkapkan bahwa produk tenunnya kini telah mendarat di berbagai negara lintas benua, mulai dari Jepang di Asia, Jerman di Eropa, hingga Arab Saudi di Timur Tengah.
Transaksi yang dilakukan sepenuhnya berbasis keberanian (online), memungkinkan pembeli dari belahan dunia mana pun untuk mengakses kekayaan budaya Mamasa hanya melalui layar ponsel.
Fenomena ini menegaskan bahwa platform digital mampu memangkas jarak dan batasan yang selama ini menjadi kendala bagi UMKM lokal untuk go internasional .
Menariknya, basis konsumen terbesar di luar negeri saat ini didominasi oleh para diaspora, yakni warga asli Mamasa dan Toraja yang sedang bekerja atau menetap di negara-negara tersebut.
Bagi mereka, selembar kain tenun bukan sekadar busana, melainkan sebuah identitas dan obat rindu akan kampung halaman.
Tenun Mamasa menjadi simbol kebanggaan yang menghubungkan mereka kembali dengan akar budayanya meski terpisah ribuan kilometer.
Namun faktanya produk ini bisa menjangkau negara-negara maju juga membuka peluang besar bagi Tenun Mamasa untuk dijual oleh pasar asing non-diaspora di masa depan.
Keberhasilan Novrianti ini mendapat apresiasi positif karena dinilai sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam mendorong transformasi digital bagi sektor ekonomi kreatif.
Langkah “Tenun Mamasa by Novri” menjadi bukti nyata bahwa integrasi antara kearifan lokal dan teknologi modern adalah formula ampuh untuk memperluas pasar.
Kisah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya di daerah untuk tidak ragu memanfaatkan ekosistem digital demi meningkatkan daya saing dan mengangkat citra produk lokal di kancah global. (*/f)
Sumber: rri














