SAMPIT, gerbangdesa.com – Profesi utamanya adalah kepala desa yang hingga kini masih aktif menjabat. Namun, dibalik tugasnya sebagai pelayan juga sebagai ustad di tengah-tengah masyarakat desanya.
Didesanya itu, hampir berimbang jumlah umat islam dengan non muslim. Hal inilah menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya untuk merangkap sebagai penceramah dan sekaligus ustad.
Menjadi ustad bukanlah secara kebetulan memanfaatkan situasi. Namun, pengalaman di bidang keagamaan sudah ditekuni sejak masih duduk dibangku sekolah dasar.
Berkat dengan adanya bekal tersebut, dia juga membuka pengajian untuk generasi terutama di lingkungan yang mayoritas muslim. Hal ini dilakukan demi memperkuat ukhuwah islamiyah di lingkungan tersebut.
“Kami adakan pengajian hampir setiap malam, terkadang di rumah bahkan bisa juga kumpul di mesjid bada magrib,” ujar Mohamad Irson saat dibincangi wartawan media siber gerbang desa usai salat Jumat berjamaah di Mesjid Jami Al-mu’min, Desa Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga, kemarin.
Setiap Jumat, dirinya terkadang diminta oleh panitia mesjid untuk berkhutbah. Seperti yang dilakukan di Mesjid Jami Al-mu’min. Dalam khutbahnya berdurasi kurang lebih 20 menit itu menyampaikan tentang keutamaan salat dan puasa di bulan suci Ramadan.
Menariknya, pada saat Jumatan di mesjid tersebut, bilal Jumat itu umumnya orang dewasa. Akan tetapi, di mesjid itu justru anak yang masih sekolah menengah pertama. Sedangkan makmumnya hampir 70 persen diisi oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Meskipun merangkap sebagai ustad, kata Irson, tugas, pokok dan fungsi dirinya sebagai kepala desa tetap tidak terabaikan. Bahkan, kata dia, juga diutamakan karena dua profesi tersebut tetap berjalan harmonis.
“Satu sisi saya sebagai pelayan di masyarakat, sedangkan satu sisinya sebagai pelayan umat. Tidak ada yang berbenturan, justru semua tetap berjalan dengan baik sampai sekarang,” pungkasnya. (fin/fin)















