GERBANGDESA.COM, Sampit – Kondisi kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang masih berada pada kategori berbahaya membuat pola pembelajaran di sejumlah sekolah berbeda.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kotim tidak menyeragamkan kebijakan, melainkan memberikan kewenangan kepada satuan pendidikan untuk menentukan apakah pembelajaran tetap dilakukan tatap muka atau dialihkan menjadi Belajar dari Rumah (BDR), dengan mempertimbangkan kondisi udara di wilayah masing-masing.
Salah satu sekolah yang memilih menerapkan BDR pada Selasa (1/9/2026) adalah SDN 1 Baamang Barat.
Langkah tersebut diambil sebagai upaya mengurangi risiko paparan asap terhadap peserta didik maupun tenaga pendidik.
Sementara sejumlah sekolah di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Pulau Hanaut masih melaksanakan pembelajaran tatap muka karena kondisi udara di wilayah tersebut dinilai relatif lebih baik.
Kepala Disdik Kotim, Yolanda Lonita Fenisia, mengatakan perbedaan kondisi antardaerah menjadi alasan pemerintah tidak memaksakan satu pola pembelajaran untuk seluruh sekolah.
“Kami melihat kondisi di lapangan berbeda-beda. Karena itu sekolah dapat menentukan langkah yang dianggap paling tepat dengan mempertimbangkan keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik,” ujarnya.
Kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran Bupati Kotim Nomor 400.3.1/1182.1/Disdik-1/2026 tentang adaptasi pembelajaran selama musim kemarau.
Sekolah dapat menerapkan pembelajaran jarak jauh apabila kualitas udara dinilai membahayakan kesehatan warga sekolah.
Selama BDR, proses pembelajaran dapat memanfaatkan sejumlah sarana digital, termasuk Rumah Pendidikan melalui akun belajar.id, Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI), maupun platform pembelajaran lainnya.
Disdik Kotim mengingatkan sekolah agar tidak hanya menilai kondisi udara berdasarkan tampilan langit yang terlihat cerah.
Data pemantauan ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup hingga Selasa (1/9/2026) masih menunjukkan kualitas udara Kotim berada pada kategori berbahaya.
“Keselamatan peserta didik menjadi prioritas. Sekolah harus aktif memantau kondisi lingkungan dan data kualitas udara sebelum menentukan kegiatan belajar,” tegas Yolanda. (hmn/fin)














