TOLITOLI – Di tengah kemajuan teknologi pangan, warga pesisir Desa Kabetan memilih setia pada warisan leluhur. Tradisi pengolahan ikan asin secara manual masih menjadi denyut nadi perekonomian desa ini. Metode yang diwariskan secara turun-temurun tersebut bukan sekedar rutinitas, melainkan upaya menjaga keaslian rasa yang menjadi identitas kuliner masyarakat pesisir.
Proses produksi dimulai setiap pagi ketika para nelayan menepikan perahu dengan hasil tangkapan segar. Ikan-ikan tersebut segera dibersihkan, dibelah, dan dilumuri garam secukupnya, sebuah teknik pengawetan alami yang telah teruji waktu.
Tanpa mesin pengering modern, warga menggantungkan nasib produksi mereka sepenuhnya pada kemurahan alam, yakni sinar matahari yang terik.
Di halaman-halaman rumah warga, deretan tampah dan para-para bambu menjadi pemandangan yang lazim.
Ikan yang telah digarami disusun rapi untuk dijemur selama dua hingga tiga hari. Durasi pengeringan ini sangat fleksibel, bergantung sepenuhnya pada kondisi cuaca.
Langit yang cerah merupakan berkah bagi para pengrajin, memastikan proses pengeringan berjalan optimal dan cepat.
Ibu Hasmi, salah seorang pengrajin ikan asin setempat, mengungkapkan bahwa metode konvensional ini adalah kunci dari kualitas produk mereka.
“Kami tetap menggunakan cara lama karena rasanya lebih enak dan tahan lama. Selain itu, bahan bakunya alami tanpa bahan pengawet yang membahayakan jika dikonsumsi,” ujarnya, Sabtu.
Kesederhanaan proses justru menjadi jaminan keamanan pangan bagi konsumen.
Meskipun menggunakan peralatan sederhana, standar kebersihan tetap menjadi prioritas utama para pengrajin demi menjaga kepercayaan pelanggan.
Kualitas yang terjaga inilah yang membuat ikan asin Desa Kabetan memiliki pasar yang luas. Distribusinya tidak hanya berhenti di pasar lokal, tetapi telah merambah hingga ke Kota Palu dan melintasi pulau hingga wilayah Kalimantan.
Bagi warga Desa Kabetan, aktivitas ini lebih dari sekadar mata pencaharian. Pengolahan ikan asin adalah bentuk pelestarian budaya maritim yang terus hidup di tengah masyarakat.
Dengan mempertahankan metode tradisional, mereka tidak hanya menggerakkan roda ekonomi keluarga, tetapi juga merawat warisan kuliner nusantara yang autentik dan berkualitas tinggi. (*/d)
Sumber: rri














