Fenomena Pemakaman di Atas Rawa Desa Nagara

BIAK – Di jantung Kalimantan Selatan, tepatnya di Desa Nagara, terdapat sebuah fenomena budaya yang lahir dari harmonisasi antara manusia dan alam. Wilayah ini dikenal dengan kondisi geografisnya yang unik, di mana sebagian besar daratannya merupakan rawa dataran rendah.

Siklus alam yang membuat 90 persen wilayah desa terendam air saat pasang telah memaksa masyarakat setempat untuk beradaptasi, tidak hanya dalam cara mereka membangun hunian panggung dari kayu ulin, tetapi juga dalam prosesi sakral mengantar kepergian kerabat menuju peristirahatan terakhir.

Tradisi pemakaman di Desa Nagara menawarkan perspektif yang berbeda dari kelaziman pemakaman di tanah kering.

Ketika seorang warga meninggal dunia, prosesi pemakaman dilakukan dengan metode khusus yang menyesuaikan dengan lingkungan air.

Jenazah tidak sekadar dikuburkan, melainkan ditempatkan di dalam peti mati yang dirancang khusus agar kedap air. Langkah ini krusial untuk menjaga kehormatan jenazah di tengah kondisi lahan yang senantiasa basah dan berair.

Prosesi penurunan peti jenazah menjadi momen yang penuh ketelitian dan kearifan lokal.

Peti tersebut diturunkan ke dalam lubang makam yang telah digali di dasar rawa. Agar peti dapat mencapai dasar dengan tepat, masyarakat menggunakan tali dan kayu galam sebagai penuntun.

Kayu galam, yang dikenal tahan air, berfungsi sebagai jalur panduan yang memastikan peti sampai ke liang lahat yang dituju tanpa melenceng, sebuah teknik sederhana namun efektif yang lahir dari pengalaman bertahun-tahun.

Tantangan terbesar dalam pemakaman air ini adalah sifat alami air yang memiliki daya apung dan arus.

Untuk mengatasi hal ini, sebuah mekanisme pemberat diterapkan. Pemberat diletakkan di atas peti mati guna memastikan jenazah tetap berada di posisinya di dasar rawa dan tidak hanyut terbawa arus air yang sewaktu-waktu bisa berubah.

Ini adalah bentuk penghormatan terakhir agar jenazah dapat beristirahat dengan tenang tanpa gangguan alam.

Tradisi ini bukanlah fenomena baru, melainkan warisan yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kultural masyarakat Nagara. Keberadaan tradisi ini menegaskan betapa kuatnya ikatan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Alih-alih melawan alam, mereka memilih untuk merangkul kondisi geografis tersebut, menjadikannya bagian dari ritus kehidupan dan kematian yang sakral.

Selain keunikan tradisi pemakamannya, masyarakat Desa Nagara juga dikenal sebagai komunitas yang tangguh dan produktif.

Di tengah keterbatasan lahan kering, mereka mampu mengembangkan keahlian dalam industri logam tradisional dan pertanian palawija.

Ketangguhan ini, yang tercermin dari kemampuan mereka bertahan hidup di atas rawa hingga cara mereka memperlakukan kematian, menjadikan Desa Nagara sebagai contoh nyata bagaimana manusia mampu beradaptasi dan menciptakan kebudayaan yang luhur di tengah tantangan alam yang ekstrem. (*/d)

Sumber: rri

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post