Disbudpar Kotim Gagas Tiwah Massal 2026, Hidupkan Tradisi Leluhur dan Gairahkan Pariwisata

GERBANGDESA.COM, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) tengah menggagas penyelenggaraan Tiwah massal di Kota Sampit. Agenda sakral umat Hindu Kaharingan ini direncanakan digelar pada tahun 2026 atau 2027, bekerja sama dengan Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) serta lembaga adat setempat.

Kepala Disbudpar Kotim Wim RK Benung mengatakan, Tiwah bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan warisan budaya yang bernilai tinggi dan layak dijadikan daya tarik wisata unggulan daerah.

“Tiwah adalah warisan budaya yang sangat berharga. Kami ingin kegiatan ini terus dilestarikan dan bahkan dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya,” ujar Wim, Selasa (28/10/2025).

Wim menegaskan, rencana Tiwah massal ini juga menjadi momentum menghidupkan kembali tradisi leluhan, bagian dari ritual Tiwah yang sudah lama tidak dilakukan di Kota Sampit. Leluhan merupakan prosesi khas yang menggunakan kapal dan lempar bambu antar peserta, melambangkan semangat gotong royong dan penghormatan kepada leluhur.

Selain pelestarian budaya, kegiatan ini juga diproyeksikan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat lokal. Pemerintah menilai, dengan strategi promosi yang tepat, Tiwah bisa menjadi magnet wisata budaya, menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Promosi yang tepat akan menjadikan Tiwah sebagai agenda wisata unggulan. Ini berpotensi menggerakkan UMKM, sektor kuliner, dan ekonomi kreatif di sekitar lokasi kegiatan,” tambah Wim.

Pemkab Kotim pun menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan adat dan keagamaan seperti Tiwah. Menurut Wim, komitmen pemerintah daerah adalah menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya leluhur dan pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan.

“Kami ingin masyarakat Kaharingan dan seluruh warga Kotim merasakan manfaat dari kegiatan ini baik secara spiritual, sosial, maupun ekonomi,” pungkasnya.

Dengan persiapan matang dan sinergi berbagai pihak, Tiwah massal diharapkan menjadi ikon kebudayaan baru di Bumi Habaring Hurung sekaligus ajang memperkuat identitas daerah melalui warisan luhur nenek moyang. (fin/fin)

Related Post