Beginilah Gaya Hidup Masyarakat Pedesaan Di Era Modern

gerbangdesa.comGaya hidup merupakan bagian dari kebutuhan sekunder seseorang, yang dapat berubah seiring berjalannya waktu atau sesuai dengan keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya. Menurut KBBI, gaya hidup adalah pola perilaku sehari-hari sekelompok orang dalam suatu masyarakat. Sedangkan menurut para ahli gaya hidup adalah menurut Kotler dalam terjemahan Bob Sabran (2009:210): “Gaya hidup secara luas diartikan sebagai cara hidup seseorang di dunia, yang diwujudkan dalam tindakannya. , minat dan pendapat. .

 Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup umumnya merupakan bagian dari kebutuhan sekunder seseorang, yang dapat berubah seiring berjalannya waktu atau keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya. Psikolog Austria awalnya menciptakan istilah gaya hidup. Alfred Adler dan Ferdinand si Banteng. Saat itu tahun 1929. Gaya hidup setiap orang sangat berbeda. Seperti pakaian, kebiasaan makan, minum dll. Gaya hidup terbagi menjadi dua kelompok, yaitu: gaya hidup sehat atau produktif dan gaya hidup santai atau konsumtif.

 Penyebab Perubahan Gaya Hidup Menurut Armstrong, “Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang adalah sikap, pengalaman dan persepsi, kepribadian, konsep diri, motif, persepsi, kelompok pembanding, kelas sosial, keluarga, dan budaya.” (Nugraheni, 2003:15). Perubahan gaya hidup umumnya disebabkan oleh globalisasi yang didukung dengan hadirnya teknologi maju yang sangat cepat  sehingga masyarakat dapat memperoleh berita, pendidikan, gaya hidup dan sosial budaya  di muka bumi.  Perubahan gaya hidup yang terjadi saat ini sangat terasa di masyarakat, terutama di kalangan masyarakat yang tinggal di pedesaan. Dengan tersedianya teknologi, masyarakat desa menggunakan teknologi, misalnya: petani mulai mengganti traktor sawah dengan tenaga sapi untuk membajak sawah, hasil panen diambil dari sawah oleh penggilingan untuk membakar padi, dll. Suatu masyarakat dapat menggunakan  teknologi, tetapi masyarakat desa dikelilingi oleh teknologi yaitu penyalahgunaan teknologi oleh anak-anak dan orang dewasa.

 Perubahan gaya hidup mengakibatkan penggunaan teknologi yang tidak tepat pada masyarakat pedesaan. Hal ini berkat pengaruh  teknologi yang hadir melalui internet dan media sosial  yang sudah tertanam dalam kehidupan sehari-hari, tanpa filtering. Banyaknya penduduk desa yang meninggalkan sistem gotong royong, banyak penduduk desa yang menjadi apatis untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjadi saling toleran dalam masyarakat desa.

  Penggunaan ponsel memungkinkan orang untuk mengekspresikan diri secara liar dan memengaruhi orang secara psikologis dan sebaliknya, seperti halnya penggunaan ponsel untuk menyebarkan berita yang mungkin tidak benar untuk mendapatkan simpati atau mengkritik suatu isu.

 Menurut Badwilan (2004), penggunaan handphone dapat menimbulkan beberapa pengaruh. Efek ini dibagi menjadi aspek psikologis, sosial, ekonomi dan kesehatan atau keselamatan. Namun, aspek psikologis dan sosial dijelaskan di sini (Badwilan, 2004):

1. Sisi psikologis

 Banyaknya pesan teks yang berisi ajakan rasis dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Contoh umum termasuk pesan yang melibatkan boikot produk Amerika. 

 2. Aspek sosial

 Salah satu hal yang sering terjadi adalah  seseorang  membiarkan ponselnya hidup atau aktif sehingga menimbulkan suara yang keras. Selain itu, penggunaan handphone sebagai alat komunikasi tidak langsung dapat menurunkan kualitas dan kuantitas  komunikasi  langsung (tatap muka). Kesalahpahaman tentang makna pesan sering muncul melalui komunikasi  tidak langsung.

  Menurut Bungin (2009), dampak penggunaan telepon seluler antara lain:  

 a) Kualitas ponsel meningkat dalam jumlah yang sangat besar  dengan produsen ponsel memproduksi ponsel murah dengan umur terbatas, sehingga harus menjadi pemborosan yang mengkhawatirkan di dunia.

 b) Ponsel berkembang menjadi disfungsi sosial, dimana penggunaan ponsel dapat merusak sendi-sendi hubungan sosial 

 c) Ponsel juga dapat  digunakan sebagai alat komunikasi dan transfer informasi, tetapi di masyarakat, ponsel juga  dapat digunakan sebagai alat “curang”, untuk menipu orang lain, dan siswa dapat menipu dengan ponsel.

 d) Ponsel sering mengganggu  forum pertemuan, pertemuan taklim, suasana belajar di kelas, bahkan suasana ibadah di rumah ibadah karena peserta pertemuan atau  taklim sering menerima atau menggunakan ponsel selama berada di forum tersebut. Seringkali, siswa juga dengan senang hati mengirim pesan teks di kelas selama kuliah, yang mengganggu konsentrasi.

 e) Ponsel terkadang digunakan sebagai alat untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas, seperti menggunakan ponsel untuk menipu orang, meneror, menghina, membuat jengkel, memfitnah orang, dll. Menggunakan ponsel untuk mencemarkan nama baik dan meneror masyarakat adalah kejahatan yang dapat dituntut secara hukum.

 f) Penggunaan ponsel yang berlebihan meningkatkan pembelian pulsa, yang membuat seseorang sangat boros, karena terbiasa berbicara lama di ponsel atau mengirim sms berturut-turut.

 Sejalan dengan  teknologi HP yang dominan di masyarakat desa, saat ini semakin banyak masyarakat desa yang menggunakan telepon genggam untuk terhubung dengan masyarakat lain untuk memudahkan percakapan tanpa harus bertatap muka. Anak-anak mulai bermain game online, yang menurut mereka jauh lebih menyenangkan daripada bermain game langsung, yang menurut mereka cepat menjadi membosankan. Dampak  lain bagi anak-anak adalah  kecanduan game online tanpa henti hingga lupa  waktu dan tugas  sekolah yang telah dilakukan demi masa depan mereka. (*/ary)

dilansir dari: unimmafm.com

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post