GERBANGDESA.COM, Sukoharjo – Desa Trangsan, yang berada di Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, menjelma sebagai sentra kerajinan rotan berorientasi ekspor. Puluhan tahun berkembang sebagai industri rumahan, desa ini menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus ikon UMKM berbasis kerajinan tangan.
Keahlian menganyam yang diwariskan lintas generasi berpadu dengan akses pasar global, menjadikan produk rotan Trangsan mampu bersaing di mancanegara.
Di balik geliat industri tersebut, ada kisah para perajin seperti Tukiman. Sejak 1997, ia menekuni anyaman rotan sebagai pekerjaan sampingan di sela aktivitasnya sebagai pekerja pabrik.
Berbekal belajar otodidak, Tukiman mengasah keterampilan hingga mampu memproduksi kursi rotan sesuai pesanan pasar.
Kini, usaha rumahan itu dijalankan bersama istrinya, Yayuk, dengan sistem kemitraan bersama pabrik penyedia bahan baku. “Bahan sudah disiapkan, kami tinggal menganyam sesuai permintaan,” ujarnya.
Model kemitraan ini memperlihatkan pola rantai produksi UMKM yang terintegrasi. Perajin fokus pada proses pengerjaan, sementara distribusi dan pemasaran ditangani pihak lain.
Skema tersebut membuat banyak keluarga di Trangsan tetap produktif dari rumah, tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama mereka. Industri rumahan pun tumbuh merata hampir di setiap sudut desa.
Meski demikian, tantangan tidak bisa diabaikan. Ketersediaan rotan berkualitas menjadi kendala utama. Dalam produksi mebel ekspor, standar mutu bahan baku sangat menentukan.
Yayuk menegaskan, kualitas rotan harus mulus dan kuat agar layak dibentuk menjadi kursi atau furnitur bernilai jual tinggi. Ketika bahan tidak memenuhi standar, proses produksi terhambat dan risiko penolakan pasar meningkat.
Karena sebagian produk dipasarkan hingga ke luar negeri, reputasi menjadi taruhan. Kualitas bukan sekadar tuntutan pembeli, melainkan strategi mempertahankan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Konsistensi mutu, ketepatan waktu produksi, serta inovasi desain menjadi kunci agar UMKM rotan tetap relevan di tengah persaingan industri kreatif dunia.
Di sisi lain, semangat gotong royong menjadi fondasi kekuatan Trangsan. Antarpelaku usaha tidak saling bersaing secara destruktif, melainkan berbagi pengalaman dan peluang.
Dukungan pemerintah melalui pelatihan serta bantuan permodalan turut memperkuat kapasitas produksi. Dengan kolaborasi, inovasi, dan komitmen menjaga kualitas,
UMKM rotan Desa Trangsan terus meneguhkan diri sebagai kebanggaan daerah sekaligus duta kerajinan Indonesia di pasar internasional. (*/d)
Sumber: kompasiana.com















