GERBANGDESA.COM, Sampit – Kritik pedas dilayangkan Wakil Ketua Komisi I DPRD Kotawaringin Timur, Eddy Mashamy, terhadap PLN yang dinilainya gagal total mengeksekusi program jaringan listrik sejak 2018. Ia menyebut, hingga 2025 hanya 12 desa yang disentuh, sementara masyarakat pesisir Pulau Hanaut terus hidup dalam ketidakpastian.
“Delapan tahun perencanaan tapi tidak jalan? Ini sesuatu yang sangat janggal,” tegas Eddy dalam rapat koordinasi layanan kelistrikan diruang Rapat Paripurna DPRD Kotim, Senin (24/11/2025).
Menurut Eddy, janji PLN untuk mengalirkan listrik dari Bagendang Hulu menuju Pulau Lepeh hingga Desa Hanaut tak pernah terbukti.
Warga, katanya, “sudah berdarah-darah” menunggu kepastian, sementara manajemen PLN hanya berkelit pada alasan teknis tanpa peta jalan yang transparan.
“Bagaimana masyarakat tidak marah? Sampai tadi malam pun mereka masih gelap,” ujarnya dihadapan pihak PLN dan perusahaan perkebunan kelapa sawit.
Ia mendesak agar seluruh komitmen PLN Provinsi Kalteng di Palangkaraya maupun Pangkalan Bun dicatat resmi untuk dipantau oleh DPRD Kotim.
Eddy mencontohkan bahwa jika PLN menargetkan jaringan Pulau Hanaut rampung 2027, masyarakat harus mendapat kepastian tertulis, bukan janji lisan yang mudah berubah.
“Tidak zamannya lagi masyarakat dibodohi janji-janji kosong,” tegas mantan Camat Pulau Hanaut dengan nada sedikit meninggi.
Lebih jauh Eddy mempertanyakan orientasi bisnis PLN yang dinilai lebih dominan ketimbang kewajiban pelayanan.
“Kalau orientasinya murni bisnis, bagaimana nasib wilayah pesisir yang tidak punya daya tarik komersial?” sambungnya.
Ia menyebut, dalam sistem perencanaan pembangunan yang benar, proyek multiyears tidak boleh menggantung tanpa progres jelas selama bertahun-tahun.
DPRD Kotim berencana mengeluarkan rekomendasi resmi menyusul keluhan berulang masyarakat Pulau Hanaut. Eddy berjanji akan mengawal proses tersebut agar PLN tidak bisa lagi menghindar dari tanggung jawab.
“Kami ingin komitmen tertulis. Bukan lagi jawaban ‘akan konsultasi ke pusat’. Masyarakat butuh kepastian, bukan sebatas wacana,” pungkasnya. (fin/nrh)














