GERBANGDESA.COM, Malang – Puluhan desa di Kabupaten Malang diperkirakan menghadapi krisis air bersih pada musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memproyeksikan ancaman kekeringan meningkat seiring karakter musim kemarau yang lebih kering dan berdurasi panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan pemetaan BPBD, sedikitnya 22 kecamatan masuk kategori rawan kekeringan. Wilayah tersebut meliputi Donomulyo, Kalipare, Pagak, Bantur, Sumbermanjing, Dampit, Tirtoyudo hingga kawasan utara seperti Singosari, Karangploso, dan Dau. Kondisi ini berpotensi berdampak pada puluhan desa yang sebelumnya juga rutin mengalami krisis air bersih.
Data historis menunjukkan tren kekeringan di Kabupaten Malang cenderung berulang dengan jumlah desa terdampak yang fluktuatif. Pada 2019 tercatat 18 desa mengalami krisis air, meningkat menjadi 22 desa pada 2023, dan kembali naik menjadi 23 desa pada 2024. Meski pada 2025 tidak terjadi kekeringan signifikan, potensi kembali meningkat pada 2026 dinilai tetap tinggi.
BPBD menjelaskan, musim kemarau tahun ini diperkirakan memiliki curah hujan di bawah normal akibat potensi penguatan fenomena El Nino dengan peluang 50 hingga 60 persen pada pertengahan hingga akhir tahun. Selain itu, durasi kemarau diprediksi berlangsung cukup panjang, antara lima hingga delapan bulan, dengan awal musim terjadi pada April hingga Juni dan puncaknya pada Agustus hingga September.
Selain krisis air bersih, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat. Sebanyak 26 kecamatan diidentifikasi rawan karhutla, terutama di wilayah selatan dan kawasan dengan tutupan lahan kering. Kombinasi suhu tinggi, minimnya curah hujan, serta menurunnya debit sumber air menjadi faktor utama pemicu kondisi tersebut.
BPBD mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini, seperti menghemat penggunaan air dan menjaga sumber mata air. Prediksi ini sejalan dengan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut sejumlah wilayah di Jawa Timur mulai memasuki fase kekeringan sejak April dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.(*/d)
Sumber: Timesindonesia















