Gerbang Desa– Ikan bulu ayam di kampung nelayan Palingkau, Desa Sei Ijum Raya, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), harga jualnya sekitar Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per kilogram.
Nah, melihat harga jual yang dianggap sangat murah itulah para emak-emak mulai putar otak bagaimana caranya agar ikan bulu ayam itu ketika dijual harganya tetap tinggi. Bahkan, bisa awet sampai berbulan-bulan.
Melalui pendampingan dan pelatihan dari Dinas Perikanan Kotim inilah sudah terjawab apa yang menjadi pikiran para emak-emak di kampung nelayan Palingkau supaya ikan bulu ayam bernilai jual tinggi.
“Kami diberikan pelatihan dari Dinas Perikanan Kotim membuat keripik dan stik berbahan dasar ikan bulu ayam. Pelatihan ini sangat membantu kami karena selama ini harga jual ikan bulu ayam sangat rendah dibanding jenis ikan lainnya,” ujar Yanti, salah seorang warga Desa Sei Ijum Raya.
Kampung nelayan Palingkau merupakan dusun yang ada dipinggir sungai Mentaya. Jumlah penduduk di bawah 100 kepala keluarga. Sedangkan profesi mereka sekitar 90 persen merupakan nelayan tangkap ikan laut pandaran.
Kampung nelayan Palingkau juga dianggap salah satu pusat pendaratan ikan setelah kalab paseban yang ada di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.
Hampir setiap hari para pengepul datang untuk membeli hasil tangkapan para nelayan. Lantaran datangnya malam, rata-rata pengepul rela menginap di kampung tersebut untuk mendapatkan ikan yang lebih segar.
“Hasil tangkapan ikan bulu ayam memang tidak setiap hari, akan tetapi, apabila sudah musimnya hasil tangkapan beberapa nelayan bisa mencapai 2 ton bahkan lebih,” ujar istri Anang Salam ini yang juga berprofesi sebagai nelayan Palingkau.
Yanti menuturkan, harga ikan bulu ayam apabila dijual mentah sangatlah murah, berbeda apabila dijual dalam bentuk keripik atau stik ikan harganya mencapai Rp 50.000 sampai Rp 60.000 per kilogram.
“Karena diolah menjadi camilan tentunya lebih awet bahkan bisa disimpan berbulan-bulan,” katanya.
Selain membuat keripik berbahan ikan bulu ayam, kelompok wanita kampung nelayan ini juga sudah memproduksi keripik lainnya. Bahan baku dari udang. Untuk pemasaran paling jauh di pasar tradisional yang ada di kecamatan setempat bahkan kecamatan tetangga.
Mengenai cara membuat keripik dan stik berbahan ikan bulu ayam, menurut Yanti, tidak ada beda dengan cara seperti biasanya. Hanya saja, ada satu bahan yang digunakan berbeda.
“Untuk tepung biasanya menggunakan tepung terigu, kalau kami mencoba menggunakan tepung ketan,” tutupnya. (gd-min)















