GERBANGDESA.COM, Sampit – Wakil Ketua Komisi I DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Eddy Mashamy, menegaskan bahwa wilayah Selatan Kotim memiliki modal besar untuk bangkit dari keterpurukan dan berkembang menjadi pusat ekonomi baru.
Dengan populasi mencapai 69.491 jiwa, wilayah yang meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, dan Teluk Sampit itu dinilai menyimpan potensi alam, pertanian, perikanan, dan pariwisata yang belum tergarap optimal.
Eddy menyebut kawasan tersebut merupakan “permata yang belum terpoles”. Selain dikenal sebagai lumbung padi Kotim, wilayah Selatan juga memiliki keberagaman komoditas perkebunan, kekayaan bahari, serta dua pantai yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. Jika dikelola strategis, sektor-sektor ini bisa mendorong lapangan kerja baru hingga menarik investasi.
Di bidang perikanan, daerah pesisir ini memiliki hasil laut melimpah termasuk udang, kepiting, dan beragam jenis ikan yang berpotensi diolah menjadi produk bernilai tambah.
Sementara itu, keberagaman budaya dan maraknya penangkaran sarang burung walet menjadikan masyarakatnya kuat dalam usaha perdagangan dan ekonomi kreatif, memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal.
Menurut Eddy, penguatan ekonomi wilayah selatan harus berbasis pemberdayaan masyarakat. Ia menekankan pentingnya pelatihan, pendampingan teknis, dan akses permodalan bagi warga.
Pembentukan koperasi hingga BUMDes dinilai mampu memaksimalkan nilai hasil pertanian, perikanan, dan walet agar keuntungan ekonomi kembali kepada masyarakat secara langsung.
Pemerintah daerah, lanjutnya, wajib hadir sebagai akselerator melalui subsidi tepat sasaran, penyediaan alat tangkap dan teknologi pengolahan, serta pembangunan infrastruktur penting seperti jalan, irigasi, cold storage, dan pabrik pengolahan mini.
Peningkatan konektivitas antar-kecamatan juga dianggap krusial untuk mengurangi biaya distribusi dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Eddy menutup dengan menegaskan bahwa pembangunan wilayah Selatan Kotim harus berprinsip pada keberlanjutan.
Dengan pengelolaan yang ramah lingkungan dan pengembangan wisata berbasis ekoturisme, kawasan tersebut bukan hanya menjadi penyangga, tetapi dapat bertransformasi menjadi pusat kemakmuran baru.
“Kita bisa membangunnya menjadi wilayah yang bukan hanya kaya alam, tetapi juga kaya kesejahteraan bagi warganya,” tutupnya. (fin/nrh)















