SULTENG, gerbangdesa.com – Seorang remaja berusia 15 tahun di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Parimo, Sulawesi Tengah) diperkosa oleh 11 pria, salah satu pelaku diduga anggota Brimob. Untuk melakukan aksi bejat pelaku tersebut, korban diduga terlebih dahulu disuapi narkoba dan miras hingga mabuk.
Kasus ini dijelaskan oleh rekan korban, Salma, dari Unit Pelaksana Teknis Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (UPT DP3A) Sulawesi Tengah. Salma mengatakan, aksi bejat itu bermula saat korban menjadi relawan korban banjir di Parimo tahun lalu.
Korban mengenal para pelaku. Korban tertipu dengan janji tawaran pekerjaan yang dilontarkan oleh salah satu pelaku. Yang menawarkan pekerjaan itu adalah Arif yang berprofesi sebagai guru.
Beginilah cara pelaku mempengaruhi korban untuk melakukan pemerkosaan.
“Ya jadi dia berinteraksi dengan para pelaku ini, apalagi Pak Arif (salah satu dari 11 terduga pelaku) itu guru. Dia (Arif) dijanjikan kerja tidak ada, itu pekerjaan,” kata Salma pada 27 Mei 2023.
Salma mengatakan, setelah menyalurkan bantuan, korban tak kunjung pulang. Korban kemudian menginap di sebuah penginapan di Parimo.
Sejak saat itu, satu persatu 11 terduga pelaku mulai memperkosa para korban dengan berbagai imbalan. Pelaku yang diketahui juga memperdagangkan korban dengan sabu-sabu, termasuk mengancamnya dengan senjata tajam.
Berikut inisial 11 pelaku yang disebut korban:
1. HR alias Pak Kades berusia 43 tahun, salah satu kades di wilayah Kabupaten Parigi Moutong
2. ARH alias Pak Guru berusia 40 tahun, dia adalah seorang ASN, seorang guru SD
3. RK alias A berusia 47 tahun, wiraswasta
4. AR alias R berusia 26 tahun, petani
5. MT alias E berusia 36 tahun, tidak memiliki pekerjaan
6. FN berusia 22 tahun, mahasiswa
7. K alias DD, 32 tahun, petani
8. AW yang sampai saat ini masih buron
9. AS ini pun sama sampai saat ini masih buron
10. AK yang sampai saat ini masih buron
11. NPS yang berprofesi sebagai anggota Polri, sampai saat ini masih dalam pemeriksaan, belum berstatus tersangka.
“Menurut korban, dia tertukar, tapi dia tidak sempat menjelaskan bahwa dia menukar narkoba atau yang dia katakan hanya pertukaran, dia tertukar. Kemungkinan yang kita pahami bahwa itu adalah pertukaran adalah kemungkinan tertukar dengan narkoba karena beberapa pelaku saling kenal,” kata Salma.
Salma juga mendapat informasi adanya dugaan korban pemberian narkoba. Dia adalah salah satu penulis dengan inisial HST. Namun, Salma belum bisa memastikan apakah HST mabuk akibat alkohol atau narkoba.
“Ya (mabuk). Saya tidak tahu kenapa dia mabuk,” ujarnya.
Pelanggaran tersebut ternyata terjadi berulang kali. Pelanggaran ini terjadi di beberapa lokasi Parimo. Tindakan bejat ini dilakukan antara April 2022 dan Januari 2023.
Kasus terungkap ketika korban mengeluh kesakitan
Kasus ini belakangan terungkap setelah korban mengeluh sakit di area kelamin. Tak tahan dengan perbuatan bejat para pelaku, korban memberanikan diri menceritakan kejadian pada Januari 2023 kepada orang tuanya.
“Bulan Januari (2023) korban kesakitan dan kemudian menceritakan kepada orang tuanya bahwa dia telah melakukannya dengan laki-laki. Dia mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia merasa ada kelainan, gangguan reproduksi,” katanya.
Adapun 11 orang tersebut, hanya anggota Brimob yang belum ditetapkan sebagai tersangka karena polisi belum memiliki barang bukti.
Dioperasi setelah diperkosa
Salma mengatakan, korban dirujuk ke rumah sakit di Kota Palu. Korban disebut sedang menjalani operasi tumor rahim.
Salma pun membeberkan kondisi korban yang harus kembali menjalani perawatan intensif di IGD RSUD Palu. Pasalnya, korban kembali mengeluh sakit di perut dan kemaluannya.
“Kabar terakhir, tadi malam korban kembali ke UGD karena mengalami nyeri di vagina dan perut, tadi malam dibawa kembali ke UGD,” jelasnya, Rabu (31/5/2023).
Pihaknya juga memastikan kondisi kesehatan korban berubah setelah mengalami aksi pemerkosaan oleh 11 terduga pelaku. Berdasarkan pemeriksaan medis, saat ini korban mengalami gangguan reproduksi.
“Iya (kesehatannya terganggu setelah diperkosa), tentu iya karena kejadian ini setahun yang lalu dan setelah kejadian ini anak ini mengalami gangguan reproduksi dan menurut dokter kejadian pemerkosaan terhadap 11 orang tersebut memperparah gangguan reproduksi korban. ” ditambahkan.
Dugaan oknum Brimob yang terlibat masih belum terbukti
Djoko berharap Polres Parigi Moutong diberi kesempatan mengusut kasus dan keterlibatan jajaran Brimob tersebut. Menurutnya, polisi bergerak cepat untuk menangkap para pelaku.
“Kita harus mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Polres Parigi Moutong dalam menangani kasus seks anak,” ujarnya.
Djoko juga menyebut dugaan keterlibatan HST (staf Brimob) dalam kasus ini hanya berdasarkan keterangan korban. Pihaknya masih belum memiliki bukti karena 6 saksi yang diperiksa penyidik belum menjelaskan keterlibatan HST.
“Nama-nama yang disebutkan (staf Brimob) dari keterangan korban, dari keterangan saksi 6 belum disebutkan, jadi kita masih kekurangan bukti,” kata Kombes Djoko.
(*/ary)
dilansir dari: detik.com















