JATIM, gerbangdesa.com – Ketua RT Ngawi, WST (60) berselingkuh dengan ibu muda, HST (23). Suatu hari, WST ingin sekali mengajak selingkuhannya untuk menjalin hubungan suami-istri. Kecewa bukan main, keinginan bercinta WST ditolak ibu muda itu.
Kekecewaan ini memicu kemarahan di WST. Nafsu yang tak tersalurkan membuat WST nekad memutuskan kekasihnya. Aksi penusukan ini menyebabkan dirinya harus berurusan dengan pihak kepolisian.
Aksi penusukan ketua RT di Desa Karanggeneng, Pitu, Ngawi itu rupanya dilatarbelakangi oleh asmara. “Motifnya asmara,” kata Kasat Reskrim Polres Ngawi, AKP Agung Joko Haryono.
Menurut Agung, ada hubungan terlarang antara korban dan pelaku yang tidak diketahui oleh keluarga masing-masing. Pelaku nekat mencabik-cabik korban karena menolak ajakan berhubungan badan.
“Dengan demikian berdasarkan keterangan pelaku dan korban, pelaku meminta korban untuk melakukan hubungan suami istri, namun korban menolak. Sehingga penulis membacakan kepada korban dengan marah,” kata Agung.
Sebelumnya, HST sempat dilarikan ke RS Dr Soeroto karena berlumuran darah usai ditusuk WST, ketua RT setempat. Peristiwa itu, kata Agung, terjadi pada Rabu (17/5) sekitar pukul 11.00 WIB.
Saat itu, tetangga mendengar teriakan minta tolong dari anak korban. Tetangga yang mendengarnya langsung mendatangi sumber suara dan melihat korban tergeletak di tanah dengan banyak darah di tangannya.
“Korban yang kondisinya sudah luka-luka, ditemukan tetangga saat anaknya berteriak minta tolong. Saat itu, anak korban mengaku ditusuk ibunya oleh RT Agung.
Agung mengatakan, warga langsung mendatangi rumah ketua RT dan melihat tangan yang bersangkutan juga berlumuran darah. Ketua RT diduga mencoba bunuh diri. Sebuah celurit dan bantal berlumuran darah disita sebagai barang bukti.
“Diduga ketua RT mencoba bunuh diri setelah melakukan penyerangan terhadap korban,” kata Agung.
(*/ary)
sumber : detik.com















