JAKARTA, gerbangdesa.com – Nasaruddin Umar Imam dari Masjid Istiqlal dicalonkan sebagai calon wakil presiden (Cawapres) bekerja sama dengan Ganjar Pranowo. Berapa probabilitasnya? Cendekiawan Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno berbicara tentang pentingnya sosok Nahdlatul Ulama (NU) dalam menuntaskan Perjuangani Ganjar PDI.
“NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia dengan pemahaman keagamaan yang cukup luas, toleran, cukup pluralistik, yang menurut saya memiliki nafas yang sama dengan PDIP yang nasionalis,” kata Adi kepada wartawan, Selasa (16/05/2023).
Nasaruddin Umar adalah salah satu petinggi PBNU periode 2022-2027 dan tokoh di luar Jawa. Menurut Adi, cukup ada dua alasan untuk mencalonkan Nasaruddin Umar Ganjar sebagai calon wakil presiden.
“Nasaruddin Umar merupakan tokoh penting dan sentral di NU yang memiliki sisi non-Jawa karena Nasaruddin Umar berasal dari Makassar dan memiliki latar belakang yang sama dengan Pak Jusuf Kalla,” ujarnya.
Namun, Adi menegaskan kelayakan Nasaruddin Umar. Nasaruddin Umar tidak banyak dikenal masyarakat dan namanya tidak muncul dalam pemeriksaan.
“Harus diakui Nasaruddin Umar adalah sosok yang tidak muncul dalam pemeriksaan, banyak orang yang tidak mengenalnya, jadi wajar jika orang bertanya,” ujarnya. Adi menilai elektabilitas Ganjari tidak cukup kuat untuk mengikatnya dengan siapapun. Menurutnya, selektivitas Kavapres efektif.
“Kalau PDIP mencari sosok di dapil NU, tapi tidak boleh memilih yang tidak memiliki elektabilitas dan popularitas. Mengingat, posisi Ganjar Pranowo belum mencapai 60 persen aman psikologi politik. Ini sebabnya Posisi Cawapres itu penting, juga kuncinya,” ujarnya. Kondisi ini berbeda dengan kondisi Joko Widodo (Jokowi) pada 2019. Saat itu, lanjut Adi, pilihan Jokowi aman sehingga bebas memilih pasangan.
“Elektabilitas Jokowi (tahun 2019) tinggi, kepuasannya tinggi, padahal dia punya tokoh NU yang tidak populer dan tidak dikenal yang memenangkan pertarungan politik di tahun 2019,” katanya.
(*/ary)
dilansir dari: detik.com















