JAKARTA, gerbangdesa.com – Sekretaris Jenderal Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto menyatakan, implementasi kebijakan praktik kelapa sawit berkelanjutan harus ditanggapi secara serius.
Bahkan, sudah ada koperasi petani swadaya yang tersertifikasi berkelanjutan, termasuk program Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Yang terpenting, menurutnya, keseriusan seluruh pemangku kepentingan, misalnya ketika ada kelompok petani bersertifikat ISPO, mereka harus disambut dan produknya bisa dibeli oleh pabrik kelapa sawit.
“Namun masih ada pabrik sawit yang membeli TBS dari petani seolah-olah perusahaan tidak mempercayai ISPO, bahkan ada petani kecil yang sudah memiliki sertifikasi ISPO tetapi menjual tandan buah segar sawitnya kepada tengkulak,” kata Darto yang dilansir dari infosawit.com, Senin 10 April 2023.
Darto menegaskan bahwa tercatat seluruh pekebun sawit anggota SPKS yang telah mendapatkan Tanda Daftar Perkebunan (STDB) mencapai 2.000 petani.
Darto juga mengungkapkan, saat ini satu organisasi telah lulus sertifikasi RSPO, satu organisasi petani telah lulus sertifikasi ISPO, dan empat organisasi petani lainnya sedang dalam proses sertifikasi RSPO pada November 2022 hingga 2023.
SPKS juga telah memberikan pendampingan pada satu daerah hingga keluarnya Perda Rencana Aksi Daerah (RAD) Kelapa Sawit Lestari. Petani anggota SPKS juga melakukan sosialisasi kepada petani kelapa sawit dalam kemitraan dengan enam perusahaan swasta dan pembeli minyak sawit.
“Kami telah memetakan sekitar 15.000 petani dengan standar STDB dan melakukannya secara partisipatif,” pungkasnya. (*)















