GERBANGDESA.COM, Sampit – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati mengungkapkan masih terdapat sekitar 25 jembatan yang membutuhkan perbaikan di jalur penghubung dari Kecamatan Cempaga menuju Kecamatan Seranau hingga Kecamatan Pulau Hanaut. Kondisi ini disebutnya menjadi hambatan distribusi dan mobilitas masyarakat di wilayah pesisir.
Jalur tersebut berada dalam kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Sejatinya, Gubernur telah menjanjikan perbaikan dan peningkatan badan jalan pada tahun 2025, namun rencana itu tertunda karena efisiensi anggaran. Irawati berharap realisasinya dapat dilakukan tahun ini.
“Program itu tertunda akibat efisiensi anggaran. Pemkab Kotim mengingatkan agar komitmen perbaikan dapat direalisasikan tahun ini agar mobilitas tidak semakin terhambat,” ucapnya kepada wartawan gerbangdesa.com usai membuka Musrenbang RKPD Kecamatan Seranau, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, akses kendaraan roda dua dan roda empat saat ini hanya dapat menembus jalur dari Kecamatan Cempaga menuju Seranau. Sementara ke arah Kecamatan Pulau Hanaut belum dapat dilalui kendaraan, meski merupakan jalur penghubung penting antarwilayah.
Irawati juga memastikan bahwa peningkatan ruas jalan dan jembatan tersebut telah masuk dalam pembahasan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD tingkat Kabupaten Kotawaringin Timur sebagai bagian dari prioritas pembangunan infrastruktur dasar.
Bahkan, pada Musrenbang RKPD Kecamatan Seranau yang digelar di aula kecamatan setempat, Senin (26/1/2026), usulan perbaikan 25 jembatan kembali diajukan untuk masuk dalam rencana pembangunan tahun 2026/2027. Pemkab berharap sinkronisasi anggaran provinsi dapat tercapai.
Selain itu, Wabup Irawati turut mendorong DPRD Kotim agar ikut memperjuangkan janji perbaikan yang sebelumnya pernah disampaikan Gubernur Kalteng, sehingga pelaksanaan upgrading jalan dan jembatan dapat dieksekusi dalam tahun anggaran 2026.
Sementara itu, masyarakat setempat saat ini terpaksa memperbaiki jembatan-jembatan rusak secara swadaya menggunakan kayu yang tersedia di sekitar lokasi.
Perbaikan darurat tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan kurang dari enam bulan karena keterbatasan material penguat. (fin/fin)














