GERBANGDESA.COM, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Dalam sepekan terakhir, luas lahan yang dilalap api mencapai hampir 143 hektare, sementara ratusan titik panas (hotspot) terdeteksi di berbagai wilayah.
Kecamatan Kota Besi menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak dan masih menjadi salah satu kawasan paling rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan penanganan saat ini difokuskan pada dua lokasi yang hingga kini masih aktif terbakar, yakni Desa Eka Bahurui dan Desa Soren.
Kebakaran di Desa Eka Bahurui telah berlangsung selama 11 hari, sedangkan di Desa Soren memasuki hari keenam.
“Saat ini ada puluhan titik panas yang terpantau di wilayah Kotim. Yang menjadi perhatian utama adalah kebakaran di Desa Eka Bahurui yang sudah memasuki hari ke-11 dan Desa Soren yang sudah memasuki hari ke-6,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, proses pemadaman menghadapi tantangan besar akibat cuaca panas yang berkepanjangan serta karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
Kondisi tersebut menyebabkan api kerap muncul kembali meski telah dilakukan penyiraman berulang kali.
Bahkan, dua unit helikopter water bombing telah diterjunkan untuk membantu pemadaman dari udara, namun kebakaran di kedua titik tersebut masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Luas area yang terbakar di dua lokasi itu diperkirakan telah melampaui 20 hektare.
Selain menghanguskan lahan, asap dari kebakaran mulai berdampak terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.
Hingga kini, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, serta pihak perusahaan terkait terus melakukan pemadaman dan pemantauan secara intensif guna mencegah api meluas ke kawasan lain.
“Kami terus melakukan penanganan bersama seluruh pihak yang terlibat. Namun pencegahan tetap menjadi langkah yang paling penting agar karhutla tidak semakin meluas,” tegas Multazam.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya titik api baru selama musim kemarau berlangsung.(hmn/fin)














