Seba Baduy Jadi Momentum Spiritual dan Budaya Masyarakat Kanekes

GERBANGDESA.COM – Ribuan masyarakat Desa Kanekes atau yang lebih dikenal sebagai Suku Baduy kembali menggelar tradisi tahunan Seba Baduy di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sebanyak kurang lebih 1.750 warga, yang terdiri dari perwakilan Baduy Dalam dan Baduy Luar, turun gunung untuk melaksanakan ritual sakral yang telah diwariskan sejak era Kesultanan Banten. Perhelatan ini bukan sekadar rutinitas budaya, melainkan manifestasi konkret dari kesetiaan dan penghormatan masyarakat adat terhadap pemerintah yang berkuasa atau yang mereka sebut sebagai “Bapak Gede”.

Esensi dari tradisi ini tercermin dalam etimologi kata ‘Seba’ yang dalam bahasa setempat bermakna ‘persembahan’. Ritual ini menjadi simbol rasa syukur yang mendalam atas kelimpahan hasil bumi yang mereka peroleh sepanjang tahun. Dalam pelaksanaannya, ribuan warga Baduy menempuh perjalanan kaki sejauh kurang lebih 80 kilometer dari desa mereka di pedalaman Kanekes menuju pusat pemerintahan. Ketahanan fisik dan mental dalam perjalanan panjang ini menjadi bukti keteguhan mereka dalam memegang teguh adat istiadat leluhur di tengah gempuran modernisasi.

Prosesi perjalanan spiritual dan budaya ini memiliki dua tujuan utama, yakni Pendopo Kabupaten Lebak di Rangkasbitung dan Pendopo Gubernur Banten di Serang. Sepanjang rute tersebut, iring-iringan masyarakat Baduy membawa serta beragam hasil bumi terbaik mereka, mulai dari padi, buah-buahan, hingga sayur-mayur. Penyerahan hasil panen kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten ini melambangkan hubungan timbal balik yang harmonis antara masyarakat adat dengan pemangku kebijakan, sekaligus harapan agar alam tetap lestari di bawah perlindungan pemerintah.

Sebelum mencapai puncak perayaan Seba, masyarakat Baduy telah lebih dulu menjalani serangkaian ritual penyucian diri yang ketat. Rangkaian ini dimulai dengan tradisi Kawalu, sebuah masa ‘puasa’ dan kontemplasi selama tiga bulan di mana wilayah Baduy Dalam tertutup bagi pengunjung luar. Setelah masa penyucian usai, mereka melanjutkan dengan upacara Ngalaksa, sebuah ritual syukuran panen padi yang menjadi penanda keberhasilan pertanian mereka.

Seba Baduy lantas menjadi kulminasi dari seluruh rangkaian ritual adat tersebut. Kehadirannya menandai berakhirnya siklus masa panen sekaligus menjadi titik awal menyambut musim tanam berikutnya. Momentum ini sangat krusial karena di dalamnya terkandung doa-doa keselamatan, tidak hanya bagi warga Baduy, tetapi juga bagi keselamatan bangsa dan negara serta kelestarian alam semesta yang menjadi rumah bersama.

Melalui tradisi Seba, masyarakat Baduy mengajarkan nilai filosofis yang luhur tentang menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam, serta manusia dengan pemimpinnya. Di tengah dinamika zaman, konsistensi ribuan warga Baduy yang berjalan kaki puluhan kilometer demi menyerahkan upeti hasil bumi adalah pesan sunyi yang kuat tentang pentingnya integritas, rasa syukur, dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. (*/d)

Sumber: suara.com

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post