Gerbang Desa – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) mengadakan seleksi Tenaga Kontrak tahap dua. Pesertanya terdiri dari eks Tekon yang belum lulus evaluasi yang diadakan pada Kamis 23 Juni 2022.
Berdasarkan hasil penilaian, dari 3,200 Tekon yang dianggap belum lulus evaluasi di lingkungan Pemkab Kotim sekitar 1.041 orang. Tekon itu terdiri dari tenaga administrasi, tenaga kesehatan dan tenaga pendidik/guru.
Panitia seleksi telah menentukan 3 tempat untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut yakni, di gedung BPG Mini Disdik Kotim, di aula RSUD dr Murjani Sampit, dan di gedung Tennis Indoor Stadion 29 November, Sampit.
Menurut data Disdik Kotim, jumlah tenaga pendidik/guru yang belum lulus evaluasi sebelumnya mencapai 500 guru. Sedangkan yang akan mengikuti seleksi tahap dua terdaftar hanya 448 orang.
Tes tertulis pada saat seleksi tahap dua, ternyata tidak ada bedanya pada saat evaluasi sebelumnya. Tes tertulis hanya menggunakan lembaran kertas. Sedangkan koreksinya secara manual.
Cara seperti ini dianggap kurang transparan, tentunya sangat rawan dan mudah dipermainkan oknum karena eks Tekon yang ikut seleksi tahap dua diduga masih ada orang titipan pejabat.
Semestinya, panitia seleksi memanfaatkan teknologi salah satunya aplikasi google form. Mengerjakan soal bisa menggunakan seluler berbasis android maupun komputer jinjing. Melalui google form ini, peserta mengerjakan soal lebih mudah bahkan hasilnya juga langsung diketahui, berapa jawaban yang salah dan berapa jawaban yang benar.
Pada saat seleksi tahap dua di gedung Tennis Indoor Stadion 29 November, Sampit, dilaksanakan Senin 25 Juli 2023. Ternyata, ada hal yang menarik perhatian misalnya, ada sejumlah peserta tidak hadir, ada yang ibu hamil dan kecelakaan di jalan raya.
Mengenai sejumlah peserta yang tidak hadir, itu diketahui ketika Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik Kotim Susiawati melihat absensi dari panitia. Hasilnya, kurang lebih 20 eks Tekon yang benar-benar tidak hadir.
“Hasil data dari panitia, sekitar 20 orang yang tidak hadir, saya belum ada laporan mengapa mereka tidak mau hadir. Nantinya, mereka akan kami panggil secara kedinasan untuk menanyakan mengapa tidak hadir, apa kendalanya dan sebagainya,” kata Susiawati pada saat ikut memantau langsung proses tes tertulis di gedung Tennis Indoor Stadion 29 November, Sampit.
Sedangkan mengenai ibu hamil, itu sudah terlihat sebelum tes dilaksanakan. Peserta itu mengaku perutnya mual dan muntah-muntah. Tim medis yang bertugas pada saat itu langsung memberikan pertolongan. Meskipun dalam keadaan sakit, peserta itu tetap mengikuti tes tertulis dan tetap diawasi tim medis karena kondisi tubuh belum prima.
Melihat semangat juang ibu hamil tetap semangat mengikuti tes tertulis seleksi tahap dua, Disdik Kotim memberikan apresiasi setinggi-tingginya. “Kami dari Disdik Kotim mengapresiasi ibu hamil itu tetap tegar untuk mengikuti tes tertulis, mudah-mudahan panitia seleksi mempertimbangkan perjuangan guru ini,” harap Susiawati.
Mengenai ada eks Tekon guru yang mengalami kecelakaan di jalan raya, itu terjadi Senin 25 Juli 2022 sekitar pukul 06.10 WIB. Lokasinya di tanjakan Bukit Lumut wilayah Desa Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga, Kotim, Kalteng.
Korbannya adalah suami istri dan anak bayi. Mereka berangkat dari Kecamatan Parenggean untuk mengikuti seleksi tahap dua. Diperjalanan naas menimpa keluarga ini, saat tanjakkan di Bukit Lumut tiba-tiba truk CPO yang ada di depan tidak kuat menanjak, kemudian mundur sedangkan posisi korban tepat berada di belakang truk. Tabrakan itupun tidak dapat dihindarkan.
“Suami saya langsung ditangani tim medis, kebetulan suami saya kerjanya di BNI cabang Sampit, saya langsung diantar teman suami saya ke stadion ini untuk mengikuti tes evaluasi,” kata Ismawati, eks tekon guru di SMP Negeri 2 Parenggean ini.
Meskipun dalam kondisi sakit, ibu beranak satu ini tetap semangat mengerjakan butir-butir soal tes tertulis. Hal itu terlihat pada saat berada di dalam gedung Tennis Indoor Stadion 29 November Sampit. Meskipun menggendong si buah hatinya dia mengerjakan soal walaupun soalnya dibacakan oleh tim yang bertugas pada saat itu.
Di sisi lainnya, perjuangan eks tekon guru tidak sampai di situ. Ada guru yang berasal dari Desa Tukang Langit, Kecamatan Telaga Antang. Untuk mencapai ke wilayah kecamatan harus menyeberang menggunakan perahu.
Tidak sedikit dana yang dikeluarkan oleh eks tekon guru yang berjuang demi mengikuti seleksi tekon tahap dua yang dipusatkan di kota Sampit. Pengorbanan tidak sebatas materi, keluarga dan jarak tempuh yang begitu melelahkan.
“Saya tetap berjuang supaya tetap menjadi guru di pedalaman, saya berharap perjuangan kami para eks tekon guru yang ada di pedalaman hendaknya lebih diperhatikan,” saran Dewi.
Sesuai aturan berlaku, kontrak Tekon itu sebenarnya hingga November 2023. Namun, Pemkab Kotim diduga mencuri start yakni, mengadakan evaluasi terlebih dahulu sebelum melakukan pemetaan untuk kebutuhan ril lapangan. Alhasil, 1.041 Tekon tidak lulus dan paling banyak di tenaga pendidik/guru. Sedangkan tenaga pendidik/guru banyak dibutuhkan terutama di pedalaman Kotim ini. (gd-min)















