Pasar Belakang Golden Jadi Monumen Kegagalan Investor, Bupati Halikin: Terkendala Masalah Hukum

GERBANGDESA.COM SAMPIT – Sekitar sepuluh tahun (2015-2025) lamanya bangunan pasar di eks belakang Golden, Jalan Pangeran Antasari, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dibiarkan mangkrak. Proyek yang seharusnya menjadi pusat perdagangan rakyat itu kini tinggal menyisakan kekecewaan.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, keterlambatan penyelesaian pembangunan pasar ini bukan semata karena kelalaian pemerintah daerah, melainkan buntut dari kerja sama dengan pihak ketiga yang terbukti bermasalah.

“Perusahaan yang menangani pembangunan ini sampai sekarang wanprestasi. Bahkan pimpinan perusahaannya sudah jadi buronan aparat karena kasus expo. Ini yang membuat proyek pasar tidak kunjung rampung hingga 2025,” ujarnya, kemarin.

Akibatnya, para pedagang terpaksa direlokasi ke lahan milik Kodim 1015/Sampit. Kondisi mereka jauh dari layak, sementara gedung pasar yang dijanjikan tak kunjung berdiri tegak.

“Kami kasihan dengan pedagang. Karena itu saya sudah bentuk tim untuk mempelajari aspek hukum proyek ini. Jangan sampai pemerintah sembarangan mengambil alih, lalu justru melanggar aturan. Kalau saya paksakan menganggarkan sementara proyek lama belum tuntas, saya sendiri bisa dipenjara,” tegas Halikin.

Ia menambahkan, Pemkab Kotim tidak tinggal diam. Halikinnor baru saja menunjuk pejabat baru yang diberi tugas khusus menangani persoalan pasar mangkrak tersebut. Harapannya, ada jalan keluar tanpa harus menabrak hukum.

“Kami ingin secepatnya ada solusi. Pemerintah tidak kurang perhatian, tapi posisi kita memang terkendala masalah hukum dengan pihak ketiga. Itu yang membuat masalah ini berlarut-larut,” tandasnya.

Mangkraknya pasar belakang Golden bukan hanya noda tata kelola, melainkan juga luka sosial bagi ratusan pedagang kecil.

Harapan mereka sederhana, segera ada kepastian, agar pasar yang terbengkalai bisa hidup kembali, bukan sekadar menjadi monumen ketidakberesan investasi daerah. (fin/fin)

Related Post