GERBANGDESA.COM, Sampit – Kesenian kuda lumping di Desa Rawa Sari, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, hingga kini masih lestari di tengah perkembangan zaman.
Kesenian yang menjadi bagian dari warisan budaya Jawa tersebut telah hadir sejak 1995, tidak lama setelah kawasan itu berkembang sebagai permukiman transmigrasi sekitar 1993.
Kuda lumping pertama kali berkembang di lingkungan RT 11 Desa Rawa Sari yang saat itu dipimpin Dasro sebagai ketua RT.
Seiring waktu, kesenian tersebut tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga bagian dari berbagai kegiatan sosial.
Setiap ada hajatan seperti pernikahan, paguyuban kuda lumping kerap mendapat undangan untuk tampil dan memeriahkan acara.
Kelestarian kesenian itu kembali terlihat saat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menariknya, pertunjukan kali ini dimainkan oleh generasi muda.
Meski secara umum kuda lumping identik dengan pemain remaja hingga dewasa, keterlibatan generasi penerus menjadi bukti bahwa kesenian tersebut masih memiliki tempat di tengah masyarakat Desa Rawa Sari.
Kepala Desa Rawa Sari, Sigit Pranoto, membenarkan bahwa kesenian kuda lumping masih terus dipertahankan dan bahkan mulai dikenalkan kepada generasi Alpha.
“Kesenian kuda lumping di desa kami masih dilestarikan dan sudah diturunkan kepada generasi berikutnya, termasuk generasi Alpha,” ujarnya.
Menurutnya, keberagaman budaya di Rawa Sari juga menjadi kekuatan tersendiri.
Selain kesenian Jawa, masyarakat turut melestarikan budaya Dayak, termasuk tarian tradisional yang kerap ditampilkan dalam acara pernikahan maupun kegiatan adat.
“Di Rawa Sari bukan hanya kesenian Jawa yang kami lestarikan. Kesenian Dayak juga tetap hidup dan menjadi bagian dari kegiatan masyarakat,” katanya. (fin/fin)















