GERBANGDESA.COM, Sampit – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Kondisi kualitas udara yang belum kembali sehat mendorong pemerintah daerah mengalihkan sementara pembelajaran tatap muka menjadi Belajar dari Rumah (BDR) demi melindungi siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Kotim Nomor 400.3.1/1182/DISDIK-1/2026 tentang Belajar dari Rumah Selama Masa Tanggap Darurat Bencana Karhutla yang ditetapkan pada 20 Agustus 2026.
Pelaksanaan BDR tidak dibatasi waktu tertentu, tetapi mengikuti perkembangan kualitas udara, kondisi karhutla, dan status tanggap darurat.
Pembelajaran tatap muka baru akan kembali digelar setelah kualitas udara berada pada kategori baik atau sehat.
Bupati Kotim Halikinnor menegaskan, pengalihan pembelajaran bukan berarti sekolah diliburkan.
Proses pendidikan tetap berjalan dengan memanfaatkan berbagai metode dan platform pembelajaran yang tersedia.
“Keselamatan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan menjadi perhatian utama kita. Karena itu, selama kualitas udara belum kembali baik atau sehat, pembelajaran dilakukan dari rumah,” kata Halikinnor, Jumat (21/8/2026).
Sekolah diarahkan memanfaatkan platform Rumah Pendidikan, akun belajar.id, Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI), serta sarana lain yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
Pengawas sekolah dan penilik juga diminta memantau pelaksanaan BDR dan melaporkannya secara berkala untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan.
“Belajar dari rumah bukan berarti kegiatan belajar mengajar berhenti. Guru tetap memberikan pembelajaran dan siswa tetap mengikuti proses belajar,” tegasnya.
Pemerintah daerah menyadari pelaksanaan BDR memiliki tantangan, terutama terkait ketersediaan perangkat, akses internet, dan pendampingan orang tua.
Karena itu, kolaborasi sekolah, guru, siswa, dan keluarga menjadi kunci agar pembelajaran tetap efektif. (sgt/fin)















