GERBANGDESA.COM, Kuningan – Desa Wisata Cibuntu di Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, tidak hanya dikenal karena pesona alamnya yang asri, tetapi juga karena inovasi unik berbasis peternakan bernama Kampung Domba.
Destinasi ini menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan konsep penataan ternak yang terintegrasi dengan kegiatan wisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Gagasan pembentukan Kampung Domba berawal dari persoalan lingkungan yang dihadapi warga. Sejak lama, sebagian besar masyarakat Cibuntu memelihara domba di sekitar rumah.
Namun, jumlah ternak yang cukup banyak menimbulkan persoalan baru, terutama bau tidak sedap dan limbah kotoran yang mengganggu kenyamanan, khususnya bagi warga yang tidak memiliki ternak.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah desa dan pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mencari solusi yang berkelanjutan.
Direktur BUMDes Cibuntu, Adang Sukanda, menjelaskan bahwa pemerintah desa kemudian menyediakan lahan khusus yang lokasinya jauh dari permukiman. Para peternak diarahkan untuk memindahkan kandang mereka ke lokasi tersebut tanpa dikenakan biaya.
Kebijakan ini mendapat respons positif dari masyarakat. Kini, tidak ada lagi kandang domba yang berada di sekitar rumah warga karena seluruh ternak telah terpusat dalam satu kawasan terpadu.
Menariknya, setelah dilakukan pendataan, jumlah domba yang terkumpul ternyata melampaui jumlah penduduk desa. Jika populasi warga Cibuntu berkisar sekitar 900 jiwa, jumlah domba di Kampung Domba telah mencapai sekitar 1.200 ekor.
Ternak tersebut berasal dari 65 peternak aktif, dengan kepemilikan yang bervariasi, mulai dari lima hingga puluhan ekor per orang. Bahkan, BUMDes sendiri mengelola lebih dari seratus ekor domba sebagai bagian dari unit usahanya.
Penataan terpusat ini tidak hanya menyelesaikan persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang baru di sektor pariwisata. Kampung Domba kini dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi.
Pengunjung yang datang dapat menyaksikan atraksi domba, belajar cara memberi pakan, hingga memahami teknik dasar perawatan ternak. Konsep ini menjadi nilai tambah, terutama bagi wisatawan yang menginap di homestay Desa Cibuntu dan ingin merasakan pengalaman khas pedesaan.
Selain itu, wisatawan juga diberi kesempatan untuk membeli domba langsung dari peternak. Harga yang ditawarkan cukup beragam, tergantung jenis dan kualitasnya.
Untuk domba jantan unggulan, misalnya, harga dapat mencapai kisaran jutaan rupiah. Skema ini memberikan keuntungan langsung bagi peternak sekaligus memperkuat perputaran ekonomi desa.
Transformasi juga terjadi pada pengelolaan limbah ternak. Kotoran domba yang sebelumnya dianggap sebagai sumber masalah kini diolah melalui proses fermentasi menjadi pupuk organik.
Produk tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian warga, tetapi juga menjadi salah satu unit usaha BUMDes.
Dengan demikian, konsep Kampung Domba menghadirkan siklus ekonomi yang berkelanjutan, dari peternakan, pengolahan limbah, hingga pertanian.
Ke depan, pengelola berencana memperluas pengembangan wisata dengan menghadirkan sentra kuliner berbasis olahan daging domba khas Cibuntu. Rencana ini diharapkan mampu memperkaya pengalaman wisata sekaligus meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Melalui inovasi tersebut, Desa Wisata Cibuntu menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang produktif dan berkelanjutan bagi masyarakat. (*/f)
Sumber: detik















