GERBANGDESA.COM, Sampit – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak serta-merta membuat setiap orang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kepala Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur (Kotim) Umar Kaderi menegaskan, kondisi daya tahan tubuh menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kerentanan seseorang terhadap gangguan pernapasan di tengah memburuknya kualitas udara.
“Tidak semua orang yang terkena kabut asap pasti terkena ISPA. Daya tahan tubuh yang baik menjadi salah satu perlindungan dari dalam tubuh kita,” kata Umar, Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar ISPA dipicu oleh infeksi virus. Namun, ketika kualitas udara menurun akibat paparan asap, saluran pernapasan dapat lebih mudah mengalami gangguan, terutama pada masyarakat yang kondisi tubuhnya sedang tidak prima.
Menurut Umar, kondisi tersebut juga membuat data kasus ISPA yang tercatat di fasilitas kesehatan belum tentu menggambarkan seluruh kejadian di masyarakat.
Banyak warga yang mengalami gejala ringan memilih mengonsumsi obat secara mandiri, beristirahat dan mengonsumsi vitamin hingga sembuh tanpa memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit.
“ISPA itu sebenarnya relatif stabil. Ada peningkatan, tetapi tidak terlalu signifikan,” ujar Umar yang juga menjabat sebagai Penjabat (Pj) Sekda Kotim itu.
Data Dinkes Kotim mencatat 16.855 kasus ISPA sepanjang Januari-Agustus 2026. Jumlah tersebut memang menurun dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 17.901 kasus dan 2024 sebanyak 22.065 kasus.
Namun, perkembangan bulanan justru menunjukkan peningkatan pada pertengahan hingga akhir periode, dari 1.495 kasus pada Maret menjadi 2.656 kasus pada Agustus.
Menghadapi kondisi tersebut, Umar meminta masyarakat tidak menganggap remeh paparan kabut asap. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika asap pekat dan masker digunakan apabila harus keluar rumah. (hmn/fin)















