Fin Echo Rilis Mini Album “Lambang Luka Ku”, Sajikan Enam Lagu dengan Genre Berbeda

GERBANGDESA.COM, Sampit – Tiga bulan bukan waktu yang singkat bagi Fin Echo untuk membawa karya-karyanya menemui pendengar. Enam single yang dirilis satu per satu sejak Juni hingga Agustus 2026 kini dirangkum dalam sebuah mini album bertajuk “Lambang Luka Ku”.

Bukan sekadar kumpulan lagu, rilisan ini menjadi jejak perjalanan musik Fin Echo sekaligus cara Arifin menyapa pendengar dengan warna musik yang tidak monoton.

Mini album yang diperkenalkan melalui kanal YouTube @finechoo tersebut berisi enam lagu, yakni “Cinta Retak”, “Tak Kembali”, “Nur Mentaya”, “Maafkan Salah Ku”, “Lambang Luka Ku”, dan “Hari Bahagia”.

Masing-masing membawa karakter berbeda, mulai dari slow rock, pop melankolis hingga ska Indonesia.

“Saya tidak ingin pendengar hanya mendapatkan satu warna. Setiap lagu punya rasa, cerita, dan energi yang berbeda,” ungkap Fin Echo.

Dari lirik bernuansa luka dan kehilangan hingga lagu yang membawa keceriaan serta semangat, Fin Echo mencoba menjadikan mini album ini sebagai perjalanan emosi bagi pendengarnya.

Keenam karya tersebut sebelumnya telah hadir di berbagai platform musik digital, termasuk Spotify, Apple Music, YouTube Music hingga Amazon Music, serta diperkenalkan melalui TikTok, Instagram, Facebook bahkan WhatsApp.

“Musik bagi saya bukan hanya tentang didengar, tetapi tentang bagaimana sebuah lagu bisa menemani suasana hati seseorang,” ujarnya.

Bagi Arifin, perilisan mini album juga menjadi langkah untuk memperkuat identitas Fin Echo di tengah cepatnya perkembangan musik digital.

Setelah enam lagu tersebut dirangkum dalam “Lambang Luka Ku”, ia memastikan perjalanan bermusiknya belum berhenti.

“Ini baru satu bagian dari perjalanan. Saya sudah menyiapkan single terbaru genre blues yang direncanakan rilis September 2026,” katanya.

Di balik nama Fin Echo, terdapat sosok Arifin yang menjadi penulis lagu sekaligus terlibat sebagai vokalis dalam sejumlah karyanya.

Proses produksi musiknya juga memanfaatkan teknologi kloning suara dan kecerdasan buatan (AI), sebagai bagian dari upaya memproduksi karya secara mandiri.

“Kita sudah berada di era AI. Teknologi ini jangan ditakuti, tetapi dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membuka ruang kreativitas,” tegas Arifin, yang juga aktif sebagai anggota PWI Kotawaringin Timur. (red)

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post