“Jalur Maut” Menuju Pelabuhan Bagendang, Jalan Rusak Telan Korban Jiwa, DPRD Kalteng: Sudah Darurat!

GERBANGDESA.COM PALANGKARAYA– Jalan poros dari Bundaran KB menuju Pelabuhan Pelindo III Sampit kini berubah menjadi “jalur maut”. Aspal yang mengelupas hingga tinggal semenisasi, lubang besar yang menganga di berbagai titik, dan kondisi permukaan jalan yang bergelombang, setiap hari menjadi jebakan bagi pengendara. Tak terhitung lagi berapa kali pengendara jatuh, bahkan sudah ada korban jiwa yang melayang akibat lalainya pemerintah provinsi memperbaiki jalur vital ini.

Desakan keras pun datang dari Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Tengah, Abdul Hafid. Legislator PAN dari Dapil II Kotim–Seruyan itu menegaskan, Pemprov Kalteng tak bisa lagi menutup mata terhadap kerusakan jalan yang melintasi Desa Bapeang, Desa Bapanggang Raya, hingga Desa Bagendang Hulu, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, tepat di depan Pelabuhan Bagendang.

“Ini jalur strategis, urat nadi perekonomian yang menghubungkan kota dengan pelabuhan. Jalannya hancur, rawan kecelakaan, bahkan sudah ada nyawa yang melayang. Pemerintah provinsi harus segera bertindak, jangan biarkan kondisi ini berlarut,” ucap Hafid di Palangkaraya, Minggu (24/8)2025)

Ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur harus sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat. Karena itu, dirinya mendorong Pemprov Kalteng melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan lokal dalam menyusun skala prioritas.

“Kalau tidak mendengar suara rakyat, pembangunan hanya akan salah sasaran. Jalan ini harus jadi prioritas utama. Jangan tunggu ada korban lagi baru bergerak,” ujarnya.

Suara senada juga datang dari warga sekitar. Suryadi, sopir truk pengangkut barang, mengaku hampir setiap minggu melihat kecelakaan di jalur tersebut.

“Kalau malam lebih parah, lubang jalan tidak kelihatan. Sudah banyak mobil rusak, bahkan ada pengendara motor yang jatuh dan meninggal. Kami sudah capek mengeluh, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan,” ujarnya dengan nada kesal.

Sementara itu, warga Desa Bapanggang Raya, Lestari, menyebut jalan rusak itu ibarat bom waktu. “Anak-anak sekolah lewat sini tiap hari. Kami khawatir mereka jadi korban. Jalan ini kan semestinya jadi perhatian utama pemerintah provinsi. Tapi kenyataannya dibiarkan saja rusak semakin parah,” keluhnya.

Kondisi ini menegaskan, kerusakan jalan poros menuju pelabuhan Pelindo III bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi menyangkut keselamatan warga dan denyut ekonomi Kotim.

Desakan Abdul Hafid menjadi alarm keras bagi Pemprov Kalteng agar segera turun tangan, sebelum jalan ini benar-benar menjadi kuburan panjang bagi pengguna jalan. (fin/fin)

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post