BRGM Latih Petani Gambut agar Bertani Secara Ramah Lingkungan – Gerbangdesa.com

SAMPIT – Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Republik Indonesia kembali mengadakan kegiatan Sekolah Lapang Petani Gambut Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (SLPG-PLTB) tahun 2023.

Pesertanya para petani gambut berasal dari Kabupaten Seruyan, Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat yang ada di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Kegiatan dipusatkan di Bumi Raya I Kelurahan Baamang Barat, Kecamatan Baamang, Kotawaringin Timur, 29-31 Mei 2023.

Kepala sub kelompok kerja Sosialisasi dan Pelatihan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Budiyanto menyampaikan pada Senin (29/05) bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun perilaku petani gambut agar bertani secara ramah lingkungan. 

Peserta SLPG foto bersama usai mengikuti pelatihan selama tiga hari berturut-turut.

“Petani tidak lagi membakar lahan dan tidak menggunakan pupuk kimia dalam bertani. Pada kegiatan sekolah lapang ini petani diajarkan untuk membuka lahan tanpa bakar, membuat pupuk organik cair, dan pestisida alami. Selain itu petani antar daerah juga saling berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang pengalaman mereka,” ujarnya.

Pembelajaran dalam SLPG dilakukan secara partisipatif, di mana para peserta pelatihan mendapatkan ilmu melalui pengalaman mempraktikan materi pembelajaran di lapangan dan pada demplotnya masing-masing.

“Kegiatan ini dilaksanakan berbasis kurikulum dengan sistem pelatihan yang sistematis dengan mempertimbangkan kebutuhan pengelolaan sekolah lapang oleh peserta pelatihan,” tambah Budiyanto.

Sementara itu, Dinas TPHP yang diwakilkan Kepala Seksi Umum Dardiansyah mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk penerapan strategi 3R BRGM.

“Di BRGM ada tiga strategi dalam percepatan restorasi diantaranya, R1 (pembasahan lahan), R2 (penanaman kembali) dan R3 (revitalisasi ekonomi masyarakat). Dengan adanya sekolah lapang ini petani dapat mandiri dalam pangan, mensejahterakan ekonomi, dan menjaga lingkungan”, kata Dardiansyah. 

Kader Mahir SLPG, Noor Halimah menyampaikan bahwa melalui metode yang ramah lingkungan, petani tetap bisa memperoleh keuntungan yang lebih banyak dengan biaya relatif murah. 

“Dengan memanfaatkan bahan organik di lingkungan sekitar, saya bisa membuat pupuk cair F1-Embio. Tanaman saya menjadi lebih subur dan tahan terhadap hama. Saya telah membuktikan hal tersebut, saya berharap peserta sekolah lapang dapat mempraktikan ilmu yang sudah dipelajari di desa masing-masing,” harapnya.

Masyarakat di desa-desa gambut menjadi pelaku utama dalam upaya perlindungan dan penyelamatan ekosistem gambut. Untuk itu, diperlukan strategi perubahan perilaku melalui peningkatan kapasitas masyarakat pedesaan agar memiliki kemampuan melindungi dan mengelola gambut secara ramah lingkungan dengan tetap mendapatkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Salah satu upaya peningkatan kapasitas masyarakat yang diselenggarakan oleh BRGM adalah Sekolah Lapang Petani Gambut. (fin/fin)

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post