SAMPIT – Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (Batamad) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan komitmennya sebagai garda terdepan dalam menjaga marwah dan hak-hak masyarakat adat Dayak.
Di bawah kepemimpinan Kepala Batamad Kotim, Fitriansyah atau yang akrab disapa Fitri Sejati, lembaga adat ini terus mengokohkan perannya hingga ke pelosok desa dan dusun.
“Jumlah kami ribuan, tersebar di 17 kecamatan, dan telah mengakar sampai ke desa-desa. Kami hadir bukan untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai pertahanan masyarakat adat Dayak,” tegas Fitri pada saat pawai pembangunan, Sabtu 30 Agustus 2025.
Fitri menjelaskan, tugas utama Batamad adalah mendampingi Dewan Adat Dayak (DAD), Damang Kepala Adat, serta Mantir/led adat dalam menegakkan hukum adat. Selain itu, Batamad juga hadir sebagai benteng pertahanan ketika hak-hak masyarakat adat terancam.
“Kami selalu siap membela masyarakat adat yang mempertahankan hak-haknya,” tegas Fitri.
Batamad tidak berdiri sendiri. Fitri menekankan, pihaknya siap bersinergi dengan aparat keamanan negara, baik TNI maupun Polri, dalam menjaga ketertiban dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.
“Kami benar-benar siap membantu TNI-Polri mengamankan wilayah, agar masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya Kotawaringin Timur, merasa nyaman,” ujarnya.
Fitri menepis anggapan miring yang kerap menyudutkan Batamad. Ia menegaskan, lembaga yang dipimpinnya bukanlah organisasi bayaran apalagi preman jalanan.
“Kami membela yang benar, bukan membela yang bayar! Kami bukan tentara nasional, bukan polisi negara. Kami adalah pertahanan masyarakat adat Dayak, lembaga adat yang berdiri untuk hak-hak masyarakat adat,” tegasnya dengan nada keras.
Lebih jauh, Fitri menekankan bahwa Batamad menjunjung falsafah Huma Betang—simbol persatuan, kebersamaan, dan keadilan masyarakat Dayak. Nilai inilah yang menjadi dasar langkah organisasi dalam setiap gerakan.
“Dengan Huma Betang, Batamad berdiri tegak menjaga marwah adat sekaligus melestarikan kearifan lokal. Itulah jati diri kami,” pungkas Fitri.
Bagi masyarakat adat Kotim, Batamad bukan sekadar organisasi. Mereka adalah tameng yang menjaga tanah, adat, dan harga diri. Sebuah barisan yang tegas, berakar di bumi, dan tak pernah tunduk pada uang. (fin/fin)















