GERBANGDESA.COM, Sampit – Penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai dirasakan dampaknya oleh petani di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Harga jual yang kini berada di kisaran Rp2.500 hingga Rp2.600 per kilogram membuat pendapatan petani semakin tertekan, terlebih biaya produksi seperti pupuk, obat gulma, ongkos panen hingga transportasi masih harus ditanggung tanpa pengurangan.
Kondisi ini membuat hasil penjualan sawit harus dibagi antara kebutuhan rumah tangga dan biaya mempertahankan produktivitas kebun.
Warga Sampit, Ali, mengatakan harga TBS saat ini mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya yang sempat menyentuh Rp2.800 hingga Rp3.000 per kilogram.
Menurutnya, melemahnya harga jual tidak sebanding dengan pengeluaran petani yang terus berjalan.
“Ketika harga turun, uang yang diterima dari hasil panen otomatis berkurang. Sementara biaya mengurus kebun tetap sama. Pupuk, obat rumput, ongkos panen sampai transportasi semuanya membutuhkan biaya,” ungkap Ali, Sabtu (31/10/2026).
Ia menjelaskan, petani berada dalam posisi sulit karena pengurangan biaya perawatan berisiko memengaruhi produktivitas tanaman.
Sebaliknya, apabila seluruh kebutuhan kebun tetap dipenuhi, pendapatan yang tersisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga semakin terbatas.
Bahkan, tidak jarang uang hasil penjualan buah kembali digunakan sebagai modal perawatan kebun.
“Kami tidak bisa sembarangan mengurangi perawatan karena dampaknya bisa terasa pada hasil panen berikutnya. Tetapi kalau semua biaya dipenuhi, uang untuk kebutuhan keluarga juga semakin sedikit,” katanya.
Ali berharap harga TBS kembali membaik dan lebih stabil agar pendapatan petani sebanding dengan biaya serta tenaga yang telah dikeluarkan. (sgt/fin)















