LOMBOK – Di tengah modernisasi yang menawarkan kemudahan material bangunan, Desa Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), memilih jalan sunyi untuk melestarikan identitasnya.
Desa wisata yang dihuni oleh suku Sasak ini menyajikan potret kehidupan yang autentik, di mana kearifan lokal tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan napas kehidupan sehari-hari.
Salah satu tradisi paling mencolok dan unik dari desa ini adalah belulut, sebuah metode perawatan lantai rumah yang mungkin terdengar tidak lazim bagi masyarakat modern.
Belulut adalah ritual membersihkan dan merawat lantai rumah adat menggunakan kotoran sapi atau kerbau.
Bagi masyarakat luar, penggunaan kotoran hewan mungkin diasosiasikan dengan sesuatu yang kotor dan bau.
Namun, bagi warga Desa Sade, ini adalah teknik arsitektur vernakular yang brilian.
Lantai rumah yang terbuat dari tanah liat memerlukan perlakuan khusus agar tidak mudah retak dan berdebu.
Kotoran sapi berfungsi sebagai perekat alami yang memperkuat struktur tanah liat sekaligus memberikan lapisan pelindung yang halus.
Proses ini bukanlah sekadar aktivitas membersihkan rumah biasa, melainkan sebuah tradisi turun-temurun yang dijaga ketat.
Para perempuan suku Sasak di Desa Sade dengan telaten melumuri seluruh permukaan lantai, mulai dari teras depan hingga ke bagian dalam kamar, dengan campuran kotoran ternak tersebut.
Menariknya, setelah mengering, lapisan ini tidak meninggalkan bau menyengat, justru memberikan aroma khas tanah yang menenangkan dan membuat suhu ruangan menjadi lebih sejuk di tengah teriknya cuaca Lombok.
Arsitektur rumah di Desa Sade sendiri merupakan manifestasi dari kesederhanaan yang fungsional.
Mayoritas hunian di sana memiliki karakteristik serupa, lantai tanah liat berwarna keabu-abuan, dinding yang teranyam rapi dari bambu, serta atap yang tersusun dari alang-alang atau rumput kering.
Bentuk atap yang melengkung atau runcing tidak hanya estetis, tetapi juga dirancang untuk mengalirkan air hujan dengan cepat dan menjaga sirkulasi udara di dalam rumah.
Keberadaan tradisi belulut menjadi bukti bahwa masyarakat adat memiliki teknologi tepat guna yang lahir dari interaksi harmonis dengan alam.
Mereka memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungan sekitar untuk menciptakan hunian yang nyaman dan tahan lama.
Kotoran sapi yang biasanya dianggap limbah, di tangan masyarakat Sade, bertransformasi menjadi elemen vital dalam menjaga keutuhan tempat tinggal mereka.
Melalui tradisi ini, Desa Sade mengajarkan nilai penting tentang keberlanjutan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Di balik dinding anyaman bambu dan lantai tanah yang sederhana, tersimpan kekayaan budaya yang menolak luntur oleh zaman.
Belulut bukan sekadar cara mengepel lantai, melainkan simbol keteguhan suku Sasak dalam merawat memori kolektif dan identitas mereka sebagai masyarakat agraris yang bersahaja. (*/d)
Sumber: Kompas














