GERBANGDESA.COM, Boyolali – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat tonggak penting dalam pembangunan wilayah perdesaan dengan dihapuskannya status desa sangat tertinggal.
Perekonomian desa yang ditopang oleh usaha mikro kini menjadi kekuatan utama yang mendorong kemajuan daerah. “Desa hari ini bukan lagi simbol keterbelakangan, melainkan pusat pertumbuhan baru,” menjadi gambaran atas transformasi tersebut.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyampaikan capaian ini saat puncak peringatan Hari Desa Nasional di Kebun Raya Indrokilo.
Ia menjelaskan bahwa dari total 7.810 desa di 29 kabupaten/kota, tidak ada lagi desa dengan kategori sangat tertinggal.
“Ini hasil kerja bersama. Desa adalah ujung tombak pembangunan yang tidak bisa dipandang sebelah mata,” tegasnya dilansir dari jatengprov.go.id, Sabtu (11/4/2026).
Berdasarkan data 2025, sebanyak 2.208 desa telah berstatus mandiri, 3.921 desa maju, dan 1.666 desa berkembang. Hanya 15 desa yang masih tertinggal dan kini menjadi fokus percepatan pembangunan.
“Kita pastikan tidak ada desa yang tertinggal terlalu lama. Semua harus bergerak naik kelas,” ujar Luthfi dengan nada optimistis.
Kemajuan ini tidak lepas dari berbagai program strategis yang dijalankan pemerintah daerah, mulai dari pengembangan kawasan perdesaan hingga desa mandiri energi dan desa wisata.
Tercatat ada 154 kawasan perdesaan berbasis sektor unggulan serta 899 desa wisata yang terus berkembang.
“Desa harus mandiri secara ekonomi dan mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global,” katanya.
Selain itu, program pendampingan desa melalui skema Satu OPD Satu Desa turut mempercepat pengentasan kemiskinan.
Sejak 2019 hingga 2025, sebanyak 452 desa telah mendapatkan pendampingan dengan dukungan anggaran lebih dari Rp112 miliar.
Di sisi lain, sekitar 4,2 juta UMKM di Jawa Tengah menjadi penggerak utama ekonomi, dengan mayoritas berada di pedesaan.
“UMKM adalah denyut nadi desa, bahkan sebagian sudah menembus pasar ekspor,” ungkap Luthfi.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menegaskan bahwa capaian ini selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam pemerataan ekonomi.
“Kita bangun desa agar ekonomi tumbuh merata dan kemiskinan ditekan. Membangun desa berarti membangun Indonesia,” ujarnya.
Momentum Hari Desa Nasional pun menjadi penegasan bahwa kemajuan bangsa berakar kuat dari desa. (*)















