GERBANGDESA.COM, Sampit – Pendangkalan Sungai Mentaya di wilayah Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), kini berada pada titik yang tak bisa lagi ditoleransi. Alur sungai yang semakin dangkal dan menyempit telah mengganggu aktivitas masyarakat secara nyata, sekaligus menjadi ancaman serius bagi kelangsungan ekonomi di kawasan pesisir.
Keluhan warga dan pelaku usaha transportasi air terus menguat. Kapal-kapal kesulitan bersandar, bahkan harus menunggu pasang untuk melintas. Jika kondisi ini terus dibiarkan, distribusi bahan pokok akan tersendat dan biaya logistik dipastikan melonjak. Dampaknya bukan sekadar teknis, tetapi langsung menghantam daya beli dan kehidupan masyarakat.
Sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3, persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai isu biasa. Pengerukan alur sungai bukan lagi pilihan, melainkan keharusan yang mendesak. Pemerintah daerah melalui dinas terkait harus segera bergerak melakukan kajian teknis sebagai langkah awal penanganan yang terukur.
Namun persoalan ini tidak berdiri sendiri. Kewenangan pengelolaan alur sungai juga melibatkan pemerintah pusat, termasuk otoritas pelabuhan dan transportasi. Karena itu, koordinasi lintas sektoral harus dilakukan secara cepat dan efektif agar tidak terjadi saling lempar tanggung jawab yang justru memperlambat solusi.
Langkah konkret harus segera diambil. Survei kedalaman sungai atau bathymetry di titik-titik kritis Samuda menjadi kebutuhan mendesak untuk memetakan kondisi riil. Hasilnya harus menjadi dasar penganggaran, baik melalui APBD Perubahan maupun dorongan ke pemerintah pusat jika masuk dalam kewenangan nasional.
Selain itu, aspek keselamatan pelayaran tidak boleh diabaikan. Pemasangan rambu-rambu sementara di titik dangkal menjadi langkah darurat untuk mencegah kecelakaan transportasi sungai yang berpotensi merugikan masyarakat.
Ke depan, penanganan tidak boleh berhenti pada pengerukan semata. Evaluasi menyeluruh terhadap penyebab sedimentasi, khususnya dari wilayah hulu, harus dilakukan agar solusi yang diambil tidak bersifat sementara. Sungai Mentaya harus dijaga sebagai ekosistem sekaligus jalur ekonomi yang berkelanjutan.
Masalah ini adalah panggilan bersama. Pemerintah, legislatif, dan masyarakat harus bersatu mengawal percepatan penanganan. Sungai Mentaya adalah urat nadi kehidupan Samuda—dan urat nadi itu tidak boleh dibiarkan tersumbat.
Penulis: Ir. H. Eddy Mashamy, MM
Editor: Arifin













