GERBANGDESA.COM, Sampit – Wakil Ketua Komisi I DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Eddy Mashami, mengajak publik menahan diri dari sikap saling menyalahkan menyusul rangkaian bencana alam berupa banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh dan sekitarnya. Menurutnya, hujat-menghujat di tengah musibah bukan hanya tidak produktif, tetapi juga berpotensi memperburuk situasi kemanusiaan.
Eddy menegaskan, pada fase darurat bencana, seluruh energi dan sumber daya seharusnya difokuskan pada penyelamatan korban, evakuasi warga terdampak, serta pendistribusian bantuan secara cepat dan merata.
“Saling menyalahkan hanya akan mengalihkan perhatian, memboroskan waktu, dan meretakkan solidaritas yang justru sangat dibutuhkan saat ini,” ujarnya.
Legislator dari Daerah Pemilihan III Kotim itu juga mengingatkan bahwa bencana alam memiliki karakter penyebab yang kompleks.
Faktor alam seperti curah hujan ekstrem, kondisi geografis, hingga pergerakan tanah kerap berpadu dengan faktor manusia, mulai dari perubahan tata guna lahan, penggundulan hutan, pembangunan yang mengabaikan tata ruang, sampai sistem drainase yang buruk.
Karena itu, menyederhanakan persoalan dengan menunjuk individu sebagai kambing hitam dinilai keliru.
Menurut Eddy, evaluasi memang penting, namun harus dilakukan secara komprehensif dan sistematis setelah masa tanggap darurat berakhir.
“Yang dibutuhkan adalah analisis mendalam untuk menemukan akar persoalan struktural, bukan penghakiman personal yang tidak menyelesaikan apa-apa,” kata politisi Fraksi PAN tersebut.
Lebih jauh, Eddy menilai budaya hujatan di ruang publik dapat merusak kesehatan mental dan kohesi sosial. Di saat masyarakat seharusnya bersatu menghadapi duka, ujaran saling menyalahkan justru menambah beban psikologis, tidak hanya bagi pihak yang disudutkan, tetapi juga bagi para korban yang tengah berjuang memulihkan diri.
Ia pun menekankan bahwa solusi nyata terletak pada aksi kolektif. Dalam jangka pendek, masyarakat diminta menunjukkan empati melalui bantuan dan dukungan moral.
Sementara untuk jangka panjang, Eddy mendorong kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat sipil dalam memperkuat mitigasi bencana, memperbaiki tata ruang, serta menjaga kelestarian lingkungan.
“Saat ini adalah waktu untuk bertindak bersama, bukan mencari siapa yang harus disalahkan,” pungkasnya. (fin/nrh)















