SAMPIT, gerbangdesa.com – Pendidikan di Indonesia dianggap sulit bagi siswa. Hal ini terlihat ketika siswa dipaksa untuk menguasai semua mata pelajaran. Belum lagi semua tugas kelas harus segera diselesaikan. Sebaliknya, pembelajaran di kelas tidak meningkatkan semangat belajar siswa. Toh, siswa hanya datang ke sekolah tanpa inti pembelajaran.
Pengamat pendidikan Muhammad Ramli Rahim juga berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia terlalu sulit dan kaku sehingga cukup sulit untuk menghasilkan sesuatu yang baik dari model pembangunan tersebut. Hal ini juga terlihat ketika siswa mengeluhkan banyaknya pelajaran yang harus mereka ambil. Namun, tidak semua siswa memiliki kemampuan dan minat yang sama.
Siswa seringkali merasa “dipaksa” untuk belajar karena ada standar yang harus dipenuhi sekaligus patokan untuk dinaikkan atau dilampaui, sehingga mau tidak mau mereka harus mempelajari semua pelajaran tersebut.
Neil deGrasse Tyson mengungkapkan bahwa sistem pendidikan belum mencapai tujuannya karena sekolah hanya mengutamakan kinerja yang tinggi. Mungkin inilah masalah pertama dalam pendidikan, dimana sekolah hanya tentang nilai, padahal nilai tidak selalu dibutuhkan dalam kehidupan.
Karena nilai tinggi di sekolah tidak selalu menjamin kesuksesan. Masalah lainnya adalah sekolah hanya mengajarkan “apa” dan bukan “mengapa”.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dimana siswa dipaksa untuk menguasai semua mata pelajaran. Meskipun pihak sekolah sendiri tidak pernah memberi tahu kami alasan mengapa kami harus menguasai semua mata pelajaran tersebut. Hal ini juga memicu masalah ketiga yaitu sekolah membunuh kreativitas siswanya.
Semua siswa dipaksa untuk belajar hal yang sama seperti orang lain. Waktu belajar juga diatur dan siswa harus mencapai level yang sama. Dan juga semua siswa dari latar belakang yang berbeda harus memiliki prestasi yang sama. Dimana semua siswa dari latar belakang yang berbeda harus memenuhi persyaratan yang sama untuk lulus. Maka cara untuk mengatasi semua masalah tersebut sangat membutuhkan peran semua pihak. Baik dari orang tua, guru maupun pemerintah.
Yang pertama datang dari orang tua. Hal pertama yang dipelajari bayi saat lahir adalah kepercayaan diri. Orang tua harus membangun kepercayaan itu. Mereka harus bisa membuat anak merasa aman dan merasa bahwa dunia aman untuk anak. Jika kepercayaan berhasil dibangun, anak akan merasa aman sepanjang hidupnya.
Lalu ada guru lain. Metode pengajaran guru juga dapat diubah untuk memperbaiki sistem pendidikan. Diperlukan metode belajar-mengajar yang baru. Guru tidak bisa lagi menggunakan metode yang memaksa siswa untuk belajar dengan hati. Metode pengajaran yang memaksa siswa untuk belajar dengan hati dianggap kurang tepat.
Guru harus mampu menciptakan minat dan ketertarikan terhadap pelajaran pada siswa tersebut terlebih dahulu. Selain itu, guru dapat berusaha untuk tidak membebani siswanya dengan memberikan banyak tugas. Karena pemberian tugas yang banyak tanpa penjelasan dapat menurunkan keinginan siswa untuk belajar. (*/ary)
dilansir dari : kompasiana.com















