GERBANGDESA.COM, Palangkaraya – Ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi menggelar aksi damai di depan Kantor Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng). Mereka mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional menyusul kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan dan ancaman kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.
Ketua BEM Universitas Palangka Raya, Naomi Artika Simamora, menilai penanganan karhutla membutuhkan perhatian lebih serius.
Dalam orasinya, Naomi melontarkan kritik keras dengan menyebut kondisi tersebut sebagai “agenda pembunuhan berencana” untuk menggambarkan kekhawatirannya terhadap keselamatan warga apabila penanganan kebakaran tidak berjalan optimal.
Pernyataan itu merupakan ungkapan kritik Naomi dalam aksi, bukan penetapan hukum terhadap pihak tertentu.
Mahasiswa meminta pemerintah daerah dan pusat memperkuat koordinasi, meningkatkan efektivitas pemadaman, serta memprioritaskan perlindungan masyarakat dari paparan kabut asap.
Mereka menilai penetapan status bencana nasional perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi faktual, luas wilayah terdampak, kapasitas penanganan daerah, dan risiko yang ditimbulkan bagi warga.
Dalam aksi tersebut, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menemui langsung para mahasiswa dan duduk di hadapan peserta saat mereka menyampaikan aspirasi.
Mahasiswa juga menghadirkan replika jenazah sebagai simbol keprihatinan terhadap ancaman keselamatan akibat karhutla.
Melalui aksi tersebut, mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, memperkuat upaya pencegahan, dan memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. (sgt/fin)














