GERBANGDESA.COM, Sampit – Nama Fin Echo mulai mencuri perhatian di jagat musik digital. Nama panggung tersebut hadir melalui sejumlah karya yang telah dirilis di berbagai platform musik, baik nasional maupun internasional.
Di balik nama Fin Echo, terdapat sosok Arifin yang tidak hanya berperan sebagai penulis lagu, tetapi juga menjadi vokalis dalam sejumlah karya musiknya.
Sejak Juni hingga Agustus 2026, Fin Echo telah merilis enam lagu ciptaan Arifin Music melalui aggregator NetRilis.
Karya-karya tersebut hadir dengan warna musik yang cukup beragam, mulai dari slow rock, pop rock, punk rock hingga ska bernuansa Indonesia.
Keenam lagu itu adalah “Cinta Retak”, “Tak Kembali”, “Nur Mentaya”, “Maafkan Salah Ku”, “Hari Bahagia”, dan “Lambang Luka Ku”.
Di antara karya tersebut, “Nur Mentaya” menjadi lagu yang memiliki kedekatan khusus dengan identitas daerah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Lagu ini terinspirasi dari Terowongan Nur Mentaya yang dikenal masyarakat sebagai salah satu ikon daerah.
Bagi Arifin, keberadaan ikon tersebut menjadi alasan untuk menuangkannya ke dalam sebuah karya musik agar tidak hanya dikenal secara visual, tetapi juga memiliki cerita dalam bentuk lagu.
“Saya melihat Sampit punya ikon daerah yang dikenal skala nasional, namun tidak ada lagu khusus mengenai Nur Mentaya itu,” kata Arifin, selaku pencipta lagu.
Menurut Arifin, lagu “Nur Mentaya” bukan sekadar karya musik, tetapi juga bagian dari upaya memperkenalkan identitas lokal melalui medium yang lebih luas.
Ia berharap lagu tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengabadikan nama Nur Mentaya dalam ingatan masyarakat, terutama generasi muda yang semakin dekat dengan platform digital.
Nama Fin Echo sendiri bukanlah sosok yang berbeda dari Arifin. Fin Echo merupakan nama panggung yang digunakan Arifin dalam aktivitas musiknya.
Ia juga terlibat sebagai vokalis, meski proses produksi vokal dilakukan dengan teknologi kloning suara dan musik berbasis kecerdasan buatan (AI).
“Zaman sekarang sudah era AI, mari kita manfaatkan teknologi itu sebaik-baiknya,” ujar Arifin yang juga aktif sebagai anggota PWI Kotawaringin Timur.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari pendekatan Arifin dalam memproduksi musik secara mandiri.
Di tengah perkembangan industri musik digital, ia mencoba memadukan ide, penulisan lagu dan teknologi untuk menghasilkan karya yang dapat langsung menjangkau pendengar melalui berbagai platform, tanpa meninggalkan tema-tema yang dekat dengan kehidupan dan daerah asalnya.
Keenam lagu Fin Echo kini telah tersedia di berbagai platform musik dan media sosial (tiktok, Instagram, Facebook).
Dari seluruh karya tersebut, “Nur Mentaya” menjadi penanda bagaimana sebuah ikon lokal dapat diterjemahkan menjadi karya musik modern.
Arifin berharap karya itu tidak berhenti sebagai lagu semata, tetapi mendapat perhatian dan dukungan lebih besar sebagai bagian dari upaya memperkenalkan identitas dan kekayaan daerah Sampit kepada khalayak yang lebih luas. (red)















