Air Sumur Berubah Payau, Krisis Air Bersih Menghantui Warga Selatan Kotim

GERBANGDESA.COM, Sampit – Krisis air bersih mulai menghantui masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) seiring kemarau yang melanda.

Air sumur dan sungai yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan warga mulai berubah menjadi payau, bahkan tidak lagi layak digunakan untuk minum dan memasak.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Kotim, Eddy Mashamy, yang merupakan wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) III, mengatakan persoalan air bersih di wilayah pesisir bukan sekadar persoalan teknis, melainkan telah menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

“Kesulitan air bersih di wilayah selatan Kotim bukan sekadar kesulitan teknis, tetapi sudah menjadi kesulitan hidup sebagai kebutuhan dasar. Ini kondisi riil yang dihadapi masyarakat kita di pesisir,” ujarnya, Selasa (11/8/2026).

Wilayah selatan Kotim yang meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut berada di kawasan pesisir Laut Jawa.

Saat kemarau panjang, sejumlah sumur warga mengering atau airnya berubah payau.

Warga di Desa Jaya Karet, Sei Ijum Raya, Handil Sohor, hingga Basawang bahkan harus menempuh jarak sekitar 1-2 kilometer untuk memperoleh air, bahkan terpaksa membeli dengan harga Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per jerigen..

Untuk tandon air berkapasitas sekitar 1.200 liter, harganya dapat mencapai Rp200 ribu.

Kondisi tersebut dinilai cukup memberatkan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan penghasilan dari aktivitas harian sebagai nelayan dan petani.

Baru-baru ini, sedikitnya empat desa telah mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada pemerintah daerah setempat.

“Bagi masyarakat wilayah selatan, air bersih bukan soal tidak ada air sumur, tetapi soal harus memilih antara membeli air atau membeli beras hari itu,” pungkasnya. (fin/fin)

Share this post:

Picture of PT GERBANG DESA NUSANTARA

PT GERBANG DESA NUSANTARA

Dari Desa Membangun Negeri

Related Post