GERBANGDESA.COM, Sampit – Kasus diare di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunjukkan peningkatan tajam di tengah kemarau panjang.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim mencatat, kasus yang terdata melalui 21 puskesmas mencapai 311 kasus pada minggu ke-37, naik 43 kasus atau sekitar 16 persen dibandingkan 268 kasus pada minggu sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan kenaikan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan mulai terbatasnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.
“Kasus diare memang menunjukkan kecenderungan naik. Kemarau yang cukup panjang membuat ketersediaan air bersih di beberapa wilayah mulai terbatas,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).
Kasus tertinggi tercatat di Puskesmas Ketapang 1 sebanyak 89 kasus, disusul Cempaka Mulia 64 kasus, Ketapang 2 sebanyak 21 kasus, serta Baamang 2 dan Parenggean 1 masing-masing 16 kasus.
Namun, Dinkes mengingatkan angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan jumlah penderita berdasarkan domisili karena sejumlah fasilitas kesehatan, khususnya di kawasan Ketapang 1, turut melayani pasien dari berbagai wilayah.
“Angka pelayanan memang tinggi, tetapi pasien di Ketapang 1 tidak semuanya warga wilayah kerja puskesmas,” jelas Nugroho.
Di tengah kondisi tersebut, persoalan air bersih menjadi perhatian karena Dinkes menerima informasi meningkatnya salinitas jaringan air PDAM di wilayah Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara dan Mentaya Hilir Selatan.
Masyarakat di wilayah terdampak diminta tidak menggunakan air tersebut untuk minum maupun memasak.
“Ketersediaan air bersih bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga menentukan kebersihan tangan, makanan, peralatan makan dan lingkungan,” pungkasnya. (sgt/fin)















