GERBANGDESA.COM, Sampit – Karhutla di Kotawaringin Timur (Kotim) kini tak lagi sekadar menyelimuti Sampit dengan asap. Abu sisa pembakaran mulai “menghujani” permukiman warga, masuk melalui ventilasi rumah, menempel di kendaraan, hingga berjatuhan di badan jalan.
Dalam beberapa hari terakhir, warga mulai merasakan dampaknya secara langsung.
“Abunya bukan hanya di jalan, tapi masuk juga ke sela-sela ventilasi rumah,” ujar Salsa, warga Sampit, Rabu (23/9/2026).
Gangguan juga dirasakan warga yang masih beraktivitas di luar rumah.
Ridho mengaku mata terasa perih dan napas sesak saat berkendara, terutama ketika melintasi kawasan yang diselimuti asap pekat.
“Kalau berkendara terasa sesak. Mata juga perih karena abu berjatuhan dan asap cukup pekat,” katanya.
Sementara Anto menyebut kondisi tersebut semakin nyata karena abu terlihat langsung berjatuhan di jalan.
“Abu bekas karhutla sudah berjatuhan di jalan. Saat berkendara, mata terkadang terasa perih,” ujarnya.
Situasi udara Kotim pada Rabu siang juga menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH pukul 12.20 WIB mencatat angka 914 untuk parameter PM10, atau masuk kategori berbahaya.
Konsentrasi PM2.5 pada sekitar pukul 12.00 WIB juga tercatat mencapai 505.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak berhenti pada kabut asap, tetapi telah menghadirkan paparan partikel pencemar yang dirasakan warga dalam aktivitas sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, warga mendesak pengendalian karhutla segera membuahkan hasil.
Hujan juga menjadi harapan untuk meredakan asap dan abu yang terus mengganggu.
“Harapannya karhutla ini cepat diatasi. Semoga segera turun hujan supaya kondisi udara membaik lagi,” kata Ridho.
Bagi warga Sampit, tanda bahaya kini bukan hanya langit yang menghitam oleh asap, tetapi abu yang mulai jatuh hingga ke depan pintu rumah. (hmn/fin)















